Bhataramedia.com – Wanita yang merokok selama kehamilan dapat menempatkan bayi mereka pada risiko cacat jantung bawaan. Semakin sering mereka merokok, semakin tinggi risiko bayi mengalami cacat jantung. Hal tersebut menurut penelitian yang dipresentasikan Sabtu 3 Mei, di pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies (PAS) di Vancouver, British Columbia, Kanada.

Merokok selama kehamilan telah dikaitkan dengan terjadinya banyak insiden cacat lahir, seperti bibir sumbing, hilangnya anggota badan bayi dan cacat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ibu yang merokok kemungkinan berhubungan dengan insiden cacat jantung pada bayi mereka.

Para penulis studi ini menggunakan data akte kelahiran dan catatan rumah sakit dari negara bagian Washington untuk menentukan apakah ibu yang merokok selama trimester pertama kehamilan terkait dengan cacat jantung. Jika hal tersebut memang berhubungan, lalu jenis cacat apa yang ditimbulkan.

“Saya peduli terhadap anak-anak dengan penyakit jantung bawaan yang kompleks. Saya melihat anak-anak tersebut serta keluarga mereka sering menjalani rawat inap yang lama dan sering mempertahankan komplikasi jangka panjang yang serius sebagai akibat dari penyakit mereka. Biasanya, penyebab cacat jantung tidak dapat diketahui. Saya melihat penelitian ini sebagai kesempatan untuk mempelajari apa yang kemungkinan menjadi penyebab dari cacat jantung bawaan,” kata pemimpin studi ini, Patrick M. Sullivan, M.D., FAAP, seorang ahli kesehatan bidang kardiologi pediatrik di Rumah Sakit Anak Seattle dan mahasiswa master bidang epidemiologi di University of Washington School of Public Health, seperti dilansir American Academy of Pediatrics (3/5/2014).

Dengan menggunakan data dari rumah sakit, para peneliti mengidentifikasi 14.128 bayi yang lahir dengan berbagai kondisi cacat jantung dari tahun 1989-2011. Mereka mencocokkan kasus tersebut dengan 62.274 bayi yang tidak mengalami cacat jantung yang lahir di tahun yang sama. Kemudian, mereka membandingkan proporsi bayi cacat jantung yang ibunya merokok selama kehamilan dengan proporsi bayi tanpa cacat jantung yang ibunya merokok. Status merokok ibu serta berapa banyak mereka merokok setiap hari tersedia dari akte kelahiran.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa bayi dengan cacat jantung lebih cenderung lahir dari ibu yang merokok, baik yang merokok selama masa kehamilan maupun yang mempunyai kebiasaan merokok di luar masa kehamilan. Risikonya semakin tinggi bagi wanita perokok berat. Selain itu, meskipun wanita berusia 35 tahun dan lebih tua kemungkinan kurang untuk merokok selama masa kehamilan dibandingkan dengan perempuan yang lebih muda, wanita yang lebih tua memiliki risiko lebih tinggi memiliki anak dengan cacat jantung jika mereka merokok.

Bayi baru lahir yang ibunya merokok memiliki risiko sekitar 50 sampai 70 persen lebih besar untuk menderita anomali katup dan pembuluh yang membawa darah ke paru-paru (katup pulmonari dan arteri pulmonalis). Selain itu, bayi baru lahir juga memiliki risiko sekitar 20 persen lebih besar untuk memiliki lubang pada dinding yang memisahkan dua bilik jantung (kelainan septum atrium). Semua kondisi cacat tersebut sering memerlukan prosedur invasif untuk disembuhkan.

Para peneliti juga menemukan bahwa di dalam beberapa tahun terakhir sekitar 10 persen wanita yang melahirkan dilaporkan merokok selama kehamilan. Mereka memperkirakan bahwa ibu yang merokok selama trimester pertama dapat menyebabkan 1 sampai 2 persen dari semua kondisi cacat jantung pada bayinya.

“Wanita, terutama wanita muda masih merokok saat hamil, meskipun telah banyak upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi merokok di tempat umum selama beberapa dekade terakhir. Penggunaan rokok yang berlangsung selama kehamilan merupakan masalah serius yang meningkatkan banyak risiko merugikan pada bayi baru lahir. Penelitian kami memberikan dukungan kuat bagi hipotesis bahwa merokok saat hamil meningkatkan risiko cacat jantung yang spesifik,” Dr. Sullivan menyimpulkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here