Bhataramedia.com – Studi baru yang diterbitkan di jurnal Science mengungkapkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak kepada beruang kutub, tetapi juga terhadap keanekaragaman hayati secara global.

Hilang dan mencairnya lapisan es bukan hanya menjadi satu-satunya akibat dari perubahan iklim. Penelitian dari University of Copenhagen dan National Museum of Natural Sciences CSIC di Madrid menunjukkan bahwa daerah tropis, misalnya, akan sangat dipengaruhi oleh perubahan lokal di dalam suhu dan curah hujan sehingga menyebabkan perubahan iklim yang signifikan.

“Salah satu pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah spesies-spesies organisme global akan mampu beradaptasi dengan iklim baru? Ada risiko untuk pengabaian informasi penting seperti itu karena peningkatan suhu di daerah kutub lebih mudah untuk dipahami dibandingkan peningkatan suhu secara global,” kata penulis senior, Miguel Araújo, di dalam rilis berita.

Studi berskala internasional ini merupakan yang pertama dari jenisnya. Studi ini menilai secara rinci ancaman dan peluang bagi keanekaragaman hayati yang timbul akibat perubahan iklim secara global.

“Kami dapat mengukur apakah peristiwa ekstrim akan menjadi bersifat lebih ekstrim atau kurang ekstrim, apakah kondisi iklim yang terjadi akan menjadi lebih sering atau kurang sering terjadi, dan seberapa jauh kondisi iklim akan bergerak dari lokasi mereka saat ini,” kata peneliti Raquel Garcia dari National Museum of Natural Sciences CSIC di Madrid.

Tim peneliti menggunakan 15 model perubahan iklim yang digunakan oleh International Panel for Climate Change untuk menganalisis bagaimana perubahan suhu dan curah hujan dapat mempengaruhi spesies yang berbeda di seluruh dunia.

“Perubahan iklim di daerah kutub mengakibatkan berkurangnya habitat bagi spesies yang hidup di daerah Arktik dan Subarktik, akan tetapi perubahan iklim memiliki pengaruh yang lebih besar dari sekedar mencairnya lapisan es,” kata Araújo, seperti dilansir Nature World News (2/5/2014).

Garcia menambahkan: “Pemanasan ekstrim dan insiden kekeringan, diperkirakan akan sangat mempengaruhi daerah tropis sehingga menimbulkan ancaman bagi spesies yang sensitif.”

Meskipun ancaman tersebut telah disadari, satu langkah perbaikan tidak akan cukup untuk mengatasi semuanya.

“Meskipun perubahan iklim merupakan fenomena global, perubahan tersebut terjadi di dalam berbagai cara yang bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya. Dengan demikian tidak ada “obat” tunggal yang dapat digunakan untuk semua daerah,” kata rekan penulis Carsten Rahbek. “Kabar baiknya adalah bahwa semakin baik kita memahami implikasi dari perubahan iklim, semakin baik kita dapat merancang tindakan manajemen untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here