Bhataramedia.com – Tubuh kita terdiri dari 60 triliun sel yang berkomunikasi terus-menerus. Informasi berjalan ketika senyawa kimia yang dilepaskan oleh beberapa sel diterima oleh reseptor di membran sel lain. Para peneliti dari OIST Cell Signal Unit yang dipimpin oleh Profesor Tadashi Yamamoto melaporkan bahwa tikus yang kekurangan protein pengatur intraselular yang disebut LMTK3 mengalami hiperaktif. Studi baru ini diterbitkan di Journal of Neuroscience.

Hiperaktivitas adalah gangguan perilaku yang menunjukkan gejala termasuk gelisah, kurangnya koordinasi, dan perilaku agresif. Identifikasi faktor-faktor genetik yang berkontribusi terhadap perilaku tersebut dapat membantu menjelaskan mekanisme patologis yang mendasari autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada manusia.

LMTK3 melimpah di dua daerah otak :

  1. Korteks serebral, yang mengkoordinasi persepsi, gerakan, dan pemikiran, dan,
  2. Hippocampus, yang mengatur memori dan belajar.

Di otak, neuron berkomunikasi melalui koneksi yang disebut sinapsis. Untuk mengirim pesan, sebuah ujung saraf di bagian pra-sinaptik melepaskan neurotransmiter yang akan diterima oleh reseptor pasca-sinaptik.

Tim peneliti yang dipimpin Yamamoto menemukan bahwa LMTK3 mengatur pertukaran reseptor neurotransmitter pada sinapsis. Di dalam neuron tikus yang kekurangan LMTK3, internalisasi reseptor menguat di bagian paska-sinaptik. Hal tersebut menunjukkan bahwa komunikasi sinaptik terganggu.

Tikus yang kekurangan LMTK3 menunjukkan berbagai perilaku hiperaktif seperti gelisah dan hipersensitivitas terhadap suara. Menariknya, tingkat dopamin mereka meningkat. Dopamin merupakan neurotransmitter yang diketahui terlibat di dalam regulasi gerakan, tingkat hormonal, motivasi, pembelajaran dan ekspresi emosi. Hasil sekresi dopamin yang berlebihan dapat mengakibatkan skizofrenia, hilangnya integritas aktivitas neuronal dan pikiran serta emosi yang abnormal. Hubungan antara regulasi ekspresi reseptor neurotransmitter oleh LMTK3 dan jalur biokimia yang menyebabkan hiperaktif masih belum diketahui.

Fungsi dari banyak protein di tubuh manusia masih belum dipahami. Cell Signal Unit terus mendalami studi genetik protein intraselular yang memelihara dan mengatur fungsi-fungsi kompleks seperti perilaku, melalui kegiatan protein di dalam sel. “Kami berharap untuk memajukan penelitian kami di dalam rangka untuk menjelaskan cacat genetik yang menyebabkan kelainan perilaku,” kata Yamamoto, seperti dilansir laman OIST (25/4/2014).

Referensi Jurnal :

T. Inoue, N. Hoshina, T. Nakazawa, Y. Kiyama, S. Kobayashi, T. Abe, T. Yamamoto, T. Manabe, T. Yamamoto. LMTK3 Deficiency Causes Pronounced Locomotor Hyperactivity and Impairs Endocytic Trafficking. Journal of Neuroscience, 2014; 34 (17): 5927 DOI: 10.1523/JNEUROSCI.1621-13.2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here