Bhataramedia.com – Menurut temuan awal American Academy of Neurology, saat ini telah ditemukan dua jenis obat baru yang berpotensi untuk mencegah terjadinya migrain.

Satu obat diberikan secara intravena (IV) dan obat yang lainnya melalui suntikan. Kedua obat tersebut adalah antibodi monoklonal yang menargetkan peptida kalsitonin yang berhubungan dengan gen / calcitonin gene-related peptide (CGRP). CGRP diduga memainkan peran di dalam migrain. Pemberian kedua obat tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya serangan migrain, daripada menghentikan migraine yang sudah terjadi.

“Hingga saat ini penyakit migraine kurang begitu mendapat perhatian, dan hanya ada beberapa pengobatan efektif yang telah disetujui untuk mencegah terjadinya migrain,” kata penulis studi ini, Dr. David Dodick di dalam siaran pers. Dia merupakan anggota American Academy of Neurology dari Mayo Clinic Arizona. “Ada kebutuhan besar untuk pengobatan migrain karena merupakan gangguan medis ketiga yang paling umum terjadi dan gangguan medis ketujuh yang paling melumpuhkan di dunia,” tambah David, seperti dilansir Nature World News (23/4/2014).

Di dalam suatu penelitian, pasien yang mengalami migrain di antara jangka waktu 5 sampai 14 hari per bulan mengalami penurunan serangan migrain sebesar 66 persen. Penurunan tersebut terjadi setelah 5-8 minggu pemberian dosis tunggal obat intravena bernama ALD403. Di sisi lain, pemberian Plasebo (obat yang digunakan sebagai kontrol) mengakibatkan penurunan serangan migrain sebesar 52 persen. Setelah pemberian obat selama 12 minggu, 16 persen penerima obat ALD403 sama sekali tidak mengalami migrain.

Pada penelitian lainnya, 217 pasien menerima suntikan obat yang dikenal sebagai LY2951742 tiap dua minggu selama 12 minggu. Pasien yang menerima obat LY2951742 memiliki rata-rata penurunan migrain per bulan sebesar 63 persen. Sedangkan serangan migrain turun menjadi 42 persen bagi pasien yang menerima plasebo.

Berdasarkan laporan dari HealthDay News, saat ini, pengobatan untuk memerangi efek migrain masih menggunakan obat-obatan seperti antidepresan, obat tekanan darah tinggi dan obat anti-kejang.

“Hasil dari kedua penelitian tersebut berpotensi untuk digunakan di dalam terapi pencegahan migrain,” kata Dr. Peter Goadsby dari UC San Francisco.
Menurut National Institutes of Health Amerika Serikat, sekitar 12 persen orang Amerika menderita sakit kepala migrain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here