Bhataramedia.com – Menurut para peneliti University of Adelaide, para pasien yang menderita gangguan irama jantung dapat meningkatkan hasil pengobatan jangka panjang mereka secara signifikan dengan manajemen intensif dari faktor risiko jantung yang terkait.

Fibrilasi atrium / Atrial fibrillation (AF) semakin bertanggung jawab untuk demensia, stroke dan kematian, serta memiliki dampak yang signifikan terhadap biaya kesehatan. Pengobatan yang saat ini digunakan untuk mengatasi hal ini dikenal sebagai proses “ablasi kateter”.

Studi yang dilakukan di Center for Heart Rhythm Disorders, University of Adelaide, diikuti lebih dari 149 pasien AF yang telah menjalani ablasi kateter. Dari jumlah tersebut, 61 orang juga telah menjalani program manajemen faktor risiko yang intensif.

Program ini melibatkan menghadiri janji tindak lanjut di klinik manajemen faktor risiko khusus setiap tiga bulan, selain janji dengan dokter spesialis pasien. Faktor risiko yang dibahas di dalam program ini meliputi berat badan, tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol, serta mengatasi masalah pernapasan tidur, merokok dan alkohol.

Temuan yang dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology tersebut, secara meyakinkan menunjukkan bahwa pasien yang berhasil mengatur faktor gaya hidup mereka, lima kali lebih mungkin untuk memiliki kelangsungan hidup jangka panjang tanpa aritmia jantung lebih lanjut.

“Setelah jangka waktu lima tahun, tingkat ketahanan hidup dan bebas dari aritmia untuk pasien yang melakukan program manajemen risiko adalah 87%. Sedangkan pada kelompok kontrol hanya sebesar 18%,” kata penulis utama studi tersebut, Dr. Rajeev Pathak, seorang Ahli jantung dan Electrophysiology Fellow dengan University of Adelaide, Rumah Sakit Royal Adelaide dan South Australian Health and Medical Research Institute (SAHMRI).

“Ini adalah penemuan yang sangat penting karena menunjukkan kesenjangan yang besar antara apa yang terjadi ketika pasien mampu mengelola risiko yang mendasari kesehatan mereka dan mereka yang hanya mengandalkan intervensi medis,” katanya.

“Penemuan ini menyoroti perbedaan antara sekadar reaktif terhadap masalah kesehatan dan responsif dengan mengubah gaya hidup dan mencoba untuk melakukan sesuatu mengenai risiko yang mendasarinya,” lanjut dia.

“Hasil penelitian kami membantu untuk memperkuat pesan kesehatan masyarakat mengenai gaya hidup dan menunjukkan apa yang dapat dicapai dari program manajemen gangguan jantung,” kata Dr. Pathak.

“Penelitian ini dapat menjadi alasan bagi para dokter untuk memulai program pencegahan agar dapat mengurangi inssiden dari suatu penyakit, daripada hanya terfokus pada pengobatan saja. Kabar baiknya adalah kita tidak pernah terlalu terlambat untuk memulai,” pungkas Dr. Pathak, seperti dilansir University of Adelaide (10/12/2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here