Bhataramedia.com – Selama ini masih banyak pertanyaan yang berhubungan dengan gangguan bipolar seperti apakah yang membuat seseorang mengalami gangguan bipolar?, kenapa gangguan bipolar terjadi sangat kuat di dalam keluarga?dan kenapa masih sangat sulit untuk menemukan pengobatan baru untuk kondisi yang mempengaruhi 200 juta orang di seluruh dunia ini?. Penelitian baru di bidang sel punca yang diterbitkan oleh para ilmuwan dari University of Michigan Medical School dan didukung oleh Heinz C. Prechter Bipolar Research Fund, dapat membantu para ilmuwan menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tim peneliti menggunakan kulit dari orang dengan gangguan bipolar untuk memperoleh baris sel punca yang spesifik terhadap kondisi tersebut. Di dalam sebuah nasah penelitian baru di ranslational Psychiatry, para peneliti melaporkan bagaimana mereka mengubah sel punca dari orang dengan gangguan bipolar menjadi neuron yang mirip dengan yang ditemukan di otak. Peneliti kemudian membandingkannya dengan sel-sel neuron yang berasal dari orang-orang tanpa gangguan bipolar.

Perbandingan dari kedua sel neuron menunjukkan perbedaan yang sangat spesifik di dalam bagaimana neuron berperilaku dan berkomunikasi satu sama lain. Selain itu para peneliti juga berhasil mengidentifikasi perbedaan mencolok di dalam bagaimana neuron menanggapi lithium, yang merupakan pengobatan paling umum untuk gangguan bipolar.

Penelitian ini merupakan yang pertama kalinya para ilmuwan mengukur secara langsung perbedaan di dalam pembentukan dan fungsi sel otak di antara orang-orang dengan gangguan bipolar dan mereka yang tidak mengalaminya.

Para peneliti yang terlibat di dalam penelitian ini berasal dari Department of Cell & Developmental Biology, Department of Psychiatry, dan U-M’s Depression Center.

Pengobatan Berbasis Sel punca untuk Penderita Gangguan Bipolar

Di dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan jenis sel punca yang disebut sel punca pluripotensi terinduksi atau induced pluripoten stem cells (iPSCs). Para peneliti mengambil sampel kecil dari sel-sel kulit dan mengekspos sel-sel kulit pada kondisi yang telah terkontrol. Selanjutnya, tim peneliti “membujuk” sel-sel tersebut menjadi sel punca yang memiliki potensi untuk berdiferensiasi menjadi jenis sel-sel lainnya. Dengan menggunakan perlakuan lebih lanjut sel punca pluripotensi kemudian diubah menjadi sel-sel neuron.

“Metode tersebut memberikan kami sebuah model yang dapat kita gunakan untuk menganalisis bagaimana perilaku sel-sel seiring perkembangannya menjadi neuron. Kami melihat bahwa sel-sel dari orang-orang dengan gangguan bipolar berbeda di dalam seberapa sering sel-sel tersebut mengekspresikan gen tertentu, bagaimana mereka berdiferensiasi menjadi neuron, bagaimana mereka berkomunikasi, dan bagaimana mereka merespon lithium,” kata Sue O’Shea, Ph.D., seorang ahli sel dari University of Michigan dan rekan penulis di dalam penelitian ini.

“Kami sangat senang dengan penemuan ini. Akan tetapi, kita baru saja mulai memahami apa yang dapat kita lakukan terhadap sel-sel punca tersebut untuk membantu menjawab banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai asal-usul dan pengobatan gangguan bipolar,” kata Melvin McInnis, MD, peneliti utama dari Prechter Bipolar Research Fund. “Misalnya saja, kami sekarang dapat membayangkan pengujian kandidat obat baru di dalam sel-sel tersebut, sehingga dapat dilakukan skrining pengobatan secara lebih spesifik dan bukan secara kebetulan,” tambah McInnis, seperti dilansir laman Health System University of Michigan (25/3/2014).

Penelitian ini didukung oleh sumbangan dari Heinz C. Prechter Bipolar Research Fund, Steven M. Schwartzberg Memorial Fund dan Joshua Judson Stern Foundation. Alfred Taubman Medical Research Institute di UM Medical School juga ikut mendukung penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga telah diperiksa dan disetujui oleh U-M Human Pluripotent Stem Cell Research Oversight committee dan Institutional Review Board.

McInnis mengatakan bahwa penelitian baru ini dapat mengubah pengobatan gangguan bipolar yang ada saat ini menjadi pengobatan yang lebih tepat sasaran. Penelitian mengenai sel punca tidak hanya membantu di dalam penemuan pengobatan baru, tetapi juga dapat mengarah kepada cara untuk menargetkan pengobatan spesifik bagi setiap pasien berdasarkan karakteristik mereka. Hal tersebut akan meminimalkan risiko terjadinya efek samping yang tidak terkontrol dari pengobatan yang diterapkan kepada pasien.

Sedikit Detail Tambahan Mengenai Penelitian Ini

Peneliti menggunakan sampel kulit untuk menciptakan baris iPSC 42. Ketika tim peneliti mengukur ekspresi gen pertama di dalam sel-sel punca dan kemudian kembali mengevaluasi sel-sel punca setelah mereka telah menjadi neuron, perbedaan yang sangat spesifik muncul antara sel-sel yang berasal dari pasien dengan gangguan bipolar dan mereka yang tidak.

Secara khusus, sel neuron bipolar mengekspresikan lebih banyak gen untuk reseptor membran dan saluran ion dibandingkan sel neuron non-bipolar. Secara umum reseptor membran dan saluran ion terlibat di dalam pengiriman dan penerimaan sinyal kalsium antar sel.

Sinyal kalsium telah diketahui merupakan faktor yang sangat penting untuk perkembangan dan fungsi neuron. Jadi, temuan baru ini mendukung gagasan bahwa perbedaan genetik yang diekspresikan selama awal perkembangan otak kemungkinan memiliki banyak hubungan dengan perkembangan gejala gangguan bipolar, serta kondisi kesehatan mental lain yang timbul di kemudian hari, terutama pada saat remaja dan dewasa.

Sementara itu, pola sinyal sel-sel neuron berubah dengan cara yang berbeda ketika para peneliti memberikan lithium. Lithium merupakan obat yang banyak digunakan pasien bipolar untuk mengatur suasana hati mereka, tetapi obat ini menyebabkan efek samping. Secara umum, lithium mengubah cara pengiriman dan penerimaan sinyal kalsium. Baris sel-sel neuron baru yang dibuat para peneliti akan memungkinkan untuk mempelajari efek lithium secara khusus pada sel-sel spesifik gangguan bipolar.

Kita dapat menganalogikan mekanisme sel-sel neuron pada penderita gangguan bipolar seperti surat yang salah alamat. Sel-sel neuron yang terbuat dari sel kulit pasien pengidap gangguan bipolar juga memiliki perbedaan. Sel-sel neuron tersebut “dialamatkan” secara berbeda selama perkembangan daerah-daerah tertentu dari otak. Hal ini kemungkinan juga berdampak pada perkembangan otak.

Para peneliti juga menemukan perbedaan ekspresi microRNA di dalam sel neuron bipolar. MicroRNA adalah fragmen kecil dari RNA yang memainkan peran kunci di dalam “membaca” gen. Hal tersebut mendukung konsep yang muncul bahwa gangguan bipolar timbul dari kombinasi kerentanan genetik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here