Bhataramedia.com – Para ahli ornitologi dari University of Rhode Island (URI) telah melakukan penelitian terhadap perubahan fisiologis usus burung pipit yang melakukan migrasi dari satu tempat ke tempat lain. Tim peneliti telah menemukan bahwa kapasitas usus merupakan faktor pembatas utama pada kemampuan burung untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim yang berlangsung secara cepat. Tim peneliti pun meyakini bahwa hewan lain pun tentu juga akan mengalami keterbatasan pada hal yang sama.

Profesor dari URI bernama Scott McWilliams yang mendalami ilmu tentang alam menyatakan bahwa kapasitas cadangan (sejauh mana hewan dapat memodifikasi fisiologi untuk menghadapi perubahan ekologi) bervariasi antar spesies. Beberapa hewan memiliki kapasitas yang besar untuk mengubah fisiologi sementara yang lainnya tidak.

“Hal ini terkait dengan skala waktu dimana ada kemungkinan bahwa terjadi ketidaksesuaian antara perubahan lingkungan dengan evolusi pada makhluk hidup. Perubahan iklim yang terjadi pada masa kini sepertinya terlalu cepat bagi kebanyakan hewan untuk melakukan evolusi sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan tersebut” kata Scott McWilliams, seperti dilansir laman University of Rhode Island (15/4/2014).

Penelitiannya, yang didanai oleh National Science Foundation, diterbitkan pekan lalu di The Proceedings of the Royal Society.

McWilliams dan seorang rekan di University of Wisconsin mengukur kapasitas cadangan dari burung gereja leher putih, yaitu songbird (burung penyanyi) yang umumnya melakukan migrasi di Amerika Utara bagian timur.

Dia menemukan bahwa burung tersebut menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sangat dingin (-29 oC) dengan cara makan sebanyak 2 sampai 4 kali lebih banyak seperti yang biasa dilakukan pada suhu musim panas. Pada suhu lebih dingin dari -29 oC, burung gereja tidak akan mendapatkan cukup makan untuk melangsungkan kehidupan.

Burung tersebut secara dramatis mampu meningkatkan ukuran ususnya untuk mengakomodasi jumlah yang lebih besar dari makanan yang mereka harus makan untuk memenuhi kebutuhan energi pada kondisi dingin. Namun, kemampuan mencerna makanan hanya efisien jika burung ini makan dalam jumlah yang banyak,” kata McWilliams. “Hal ini memberitahu kita tentang kemampuan burung pipit untuk merespon perubahan iklim secara fleksibel. Kebanyakan burung lainnya akan bermigrasi ke selatan karena mereka telah tidak memiliki kemampuan untuk merespon perubahan lingkungan dengan cara ini.

Salah satu implikasi dari temuan ini adalah bahwa burung-burung yang terbang jarak jauh dalam migrasinya membutuhkan satu atau dua hari untuk “menyusun” kembali fisiologis ususnya sebelum burung dapat memakan sejumlah besar makanan yang dibutuhkan untuk melanjutkan migrasi. Hal ini tentunya berkebalikan dengan fakta selama ini bahwa migrasi ini biasanya menyebabkan ukuran perut burung menjadi berkurang karena mereka tidak makan sambil terbang.

McWilliams mengatakan bahwa studinya telah mendefinisikan batas akhir dari kapasitas usus burung gereja leher putih. Jika batas yang sama dapat ditentukan untuk spesies lain, maka data yang tersedia dapat dimasukkan ke dalam model iklim untuk lebih memahami spesies manakah yang kemungkinan akan mampu bertahan perubahan lingkungan pada masa depan.

“Semua organisme memiliki beberapa tingkat kapasitas cadangan,” kata McWilliams. “Hewan-hewan yang hidup di lingkungan yang konstan (stabil) belum mengembangkan kapasitas ini, sehingga hewan-hewan tersebut mungkin akan memiliki tantangan terbesar untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan.”

Menurut para peneliti, batas kapasitas cadangan pada spesies lain belum banyak dipelajari. Selama ini sebagian besar penelitian terhadap kapasitas tersebut difokuskan pada beberapa jenis ular. Namun, mereka mengatakan bahwa keterbatasan yang akan dihadapi oleh semua hewan adalah kemampuan untuk mengubah makanan menjadi energi yang dapat digunakan untuk melangsungkan kehidupan.

“Sistem pencernaan pada setiap hewan memiliki batasan kapasitas yang berbeda-beda,” kata McWilliams.

Para peneliti URI mengatakan bahwa langkah berikutnya adalah untuk melakukan penelitian serupa tentang bagaimana komposisi lemak burung mengalami perubahan akibat kondisi lingkungan dan sebagai respon terhadap kebutuhan energi mereka. Selama ini, telah diketahui bahwa lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fats) berguna untuk meningkatkan kinerja penerbangan. Oleh karena itu, McWilliams mengatakan bahwa penelitian ini akan memiliki relevansi dengan jenis makanan burung untuk persiapan migrasi.

Refernsi Jurnal :

S. R. McWilliams, W. H. Karasov. Spare capacity and phenotypic flexibility in the digestive system of a migratory bird: defining the limits of animal design. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 2014; 281 (1783): 20140308 DOI: 10.1098/rspb.2014.0308.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here