Bhataramedia.com – Menurut penelitian yang diterbitkan di PLOS Pathogens, anak-anak yang tinggal di daerah-daerah yang memiliki endemik malaria dapat membentuk respon imun terhadap infeksi parasit malaria. Hal ini membuat anak-anak tersebut dapat menghindari menghindari serangan demam tinggi berulang akibat parasit malaria dan mengontrol sebagian pertumbuhan parasit malaria di dalam aliran darah mereka.

Temuan tersebut kemungkinan membantu para peneliti mengembangkan intervensi di masa depan yang mencegah atau mengurangi penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria.

Seperti dilansir NIH/National Institute of Allergy and Infectious Diseases (17/4/2014), setiap tahunnya, sekitar 200 juta kasus malaria terjadi di seluruh dunia, mengakibatkan sekitar 627.000 kematian (kebanyakan anak-anak berusia kurang dari 5 tahun yang tinggal di daerah sub-Sahara Afrika). Menurut WHO, pada tahun 2013, 97 negara telah mengalami transmisi penyakit malaria dan sedang berlangsung hingga saat ini. Tidak seperti individu yang baru terkena malaria, orang yang tinggal di daerah endemik malaria sering tidak mengalami demam yang diinduksi oleh malaria dan mampu mengendalikan jumlah parasit di dalam aliran darah.

Supaya lebih memahami mengapa hal tersebut terjadi, peneliti menganalisis sel-sel imunitas (kekebalan) dari anak-anak di Mali yang digigit oleh nyamuk yang terinfeksi malaria lebih dari 100 kali per tahun. Anehnya, anak-anak di daerah Mali tersebut hanya mengalami demam akibat malaria rata-rata sebanyak dua kali per tahun. Para ilmuwan mengumpulkan sampel darah dari anak-anak pada tiga periode : sebelum dimulainya musim malaria yang berlangsung selama enam bulan; tujuh hari setelah setiap anak telah dirawat karena demam malaria pertamanya pada musim malaria; dan setelah musim kering enam bulan berikutnya, ketika sedikit atau tidak ada penularan malaria terjadi.

Untuk mensimulasikan infeksi malaria pada periode waktu tersebut, para peneliti memapar sampel sel-sel kekebalan tubuh terhadap parasit malaria di dalam tabung reaksi. Mereka menemukan bahwa sel-sel kekebalan yang dikumpulkan sebelum musim malaria merespon dengan memproduksi sejumlah besar molekul yang menyebabkan peradangan, demam dan gejala malaria lainnya. Sebaliknya, sel-sel yang dikumpulkan setelah “pertarungan” pertamanya terhadap demam malaria merespon dengan memproduksi molekul yang mengendalikan peradangan dan menghancurkan parasit malaria.

Sel-sel kekebalan yang diambil setelah musim kering ketika ada tidak adanya paparan malaria kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan molekul yang mengendalikan peradangan. Sehingga menyebabkan anak-anak kembali rentan terhadap demam malaria. Menurut penulis, respon imun yang tampaknya tergantung pada paparan terus-menerus parasit malaria, kemungkinan telah berevolusi untuk melindungi anak-anak dari peradangan yang berpotensi mengancam nyawa dan mengendalikan pertumbuhan parasit agar tidak terjadi infeksi berulang. Adaptasi sistem imun tersebut dapat menghasilkan antibodi yang handal untuk melindungi tubuh dari timbulnya gejala malaria.

Referensi Jurnal :

Silvia Portugal, Jacqueline Moebius, Jeff Skinner, Safiatou Doumbo, Didier Doumtabe, Younoussou Kone, Seydou Dia, Kishore Kanakabandi, Daniel E. Sturdevant, Kimmo Virtaneva, Stephen F. Porcella, Shanping Li, Ogobara K. Doumbo, Kassoum Kayentao, Aissata Ongoiba, Boubacar Traore, Peter D. Crompton. Exposure-Dependent Control of Malaria-Induced Inflammation in Children. PLoS Pathogens, 2014; 10 (4): e1004079 DOI: 10.1371/journal.ppat.1004079.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here