Bhataramedia.com – Para ilmuwan dari Stanford University telah menemukan cara yang efisien untuk memproduksi etanol cair dari gas karbonmonoksida. Penemuan tersebut diharapkan akan berfungsi sebagai sumber alternatif ramah lingkungan terhadap penggunaan jagung dan tanaman lainnya untuk memproduksi etanol.

Secara konvensional, fasilitas fermentasi suhu tinggi secara kimiawi mengkonversi jagung, tebu, dan tanaman lainnya menjadi bahan bakar cair, namun proses tersebut membutuhkan ribuan hektar tanah dan sejumlah besar pupuk dan air.

“Kami telah menemukan katalis logam pertama yang dapat menghasilkan jumlah etanol yang cukup dari karbonmonoksida pada suhu kamar dan tekanan,” kata Matthew Kanan, asisten profesor kimia di Stanford dan rekan penulis penelitian yang pada awalnya muncul di jurnal Nature.

Teknik yang dikembangkan oleh Kanan dan mahasiswa pascasarjana Stanford, Christina Li tidak memerlukan fermentasi dan dapat membantu mengatasi banyak masalah yang berkaitan dengan lahan dan air yang digunakan untuk memproduksi etanol, seperti dilansir Nature World News (12/4/2014).

“Penelitian kami menunjukkan kelayakan pembuatan etanol dengan proses elektrokatalisis,” kata Kanan. “Tetapi, kami masih memiliki lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat sebuah perangkat yang praktis.”

Kanan bertujuan untuk membuat versi skala besar dari proses penetralan karbon dengan mencari cara untuk menarik karbon monoksida dari sumber daya terbarukan dan bukan dari bahan bakar fosil. Kanan berharap dapat mengambil karbon dioksida dari atmosfer untuk menghasilkan karbon monoksida, yang kemudian akan dimasukkan ke dalam katalis tembaga untuk membuat bahan bakar cair. Karbon dioksida yang dilepaskan selama pembakaran bahan bakar akan digunakan kembali untuk membuat lebih banyak karbon monoksida dan lebih banyak bahan bakar.

“Sebelum penelitian kami, ada perasaan bahwa tidak ada katalis yang secara efisien dapat mengubah karbon monoksida menjadi cairan,” kata Kanan. “Namun, kami memiliki solusi untuk masalah tersebut, yaitu dengan menggunakan tembaga, yang murah dan berlimpah. Kami berharap hasil kami menginspirasi orang lain untuk bekerja pada sistem kami atau mengembangkan katalis baru yang mengubah karbonmonoksida menjadi bahan bakar.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here