Beranda Science Gen Anda Menentukan Toleransi Terhadap Rasa Sakit

Gen Anda Menentukan Toleransi Terhadap Rasa Sakit

dna, gen
Ilustrasi, DNA ditranskripsi menjadi mRNA, yang kemudian diterjemahkan oleh ribosom menjadi protein. Peneliti UC Berkeley menunjukkan bahwa disregulasi program ekspresi gen yang diatur oleh protein ribosomal yang disebut eIF3, menyebabkan pertumbuhan sel meningkat dan karsinogenesis. Hal ini membuat protein elF3 dapat menjadi target obat antikanker yang ideal.

Bhataramedia.com – Para peneliti kemungkinan telah mengidentifikasi gen kunci yang terkait dengan mengapa beberapa orang memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk merasakan sakit daripada yang lain. Hal ini berdasarkan studi yang dirilis pada 20 April 2014 yang akan dipresentasikan pada American Academy of Neurology’s 66th Annual Meeting in Philadelphia, 26 April – 3 Mei 2014.

“Penelitian kami sangat penting karena memberikan cara yang obyektif untuk memahami rasa sakit dan mengapa individu yang berbeda memiliki tingkat toleransi rasa sakit yang berbeda,” kata penulis studi Tobore Onojjighofia, MD, MPH, yang juga sebagai anggota American Academy of Neurology, seperti dilansir laman American Academy of Neurology (AAN) (17/4/2014).

Empat gen yang diteliti adalah COMT, DRD2, DRD1 dan OPRK1.

Para peneliti mengevaluasi 2.721 orang yang didiagnosis memiliki rasa sakit kronis, dimana rasa sakit ini terkait dengan gen tersebut. Setiap peserta diberi obat nyeri opioid. Para peserta juga dinilai persepsi mereka tentang nyeri pada skala dari nol sampai 10. Peserta yang dinilai rasa sakit mereka sebagai nol tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

Persepsi nyeri yang rendah didefinisikan sebagai skor satu, dua atau tiga; persepsi nyeri sedang adalah skor empat, lima atau enam; dan persepsi nyeri yang tinggi adalah nilai tujuh, delapan, sembilan atau 10.

Hasilnya adalah sembilan persen dari peserta memiliki persepsi nyeri yang rendah, 46 persen memiliki persepsi nyeri sedang dan 45 persen memiliki persepsi nyeri yang tinggi.

Para peneliti menemukan bahwa varian gen DRD1 umumnya 33 persen lebih prevalen (sering ditemukan) pada kelompok nyeri rendah dibandingkan kelompok nyeri yang tinggi.

Di antara orang-orang dengan persepsi nyeri sedang, COMT dan OPRK varian yang lebih sering ditemukan dibandingkan pada mereka dengan persepsi nyeri yang tinggi, dengan persentase masing-masing sebanyak 25 persen dan 19 persen. Varian DRD2 lebih umum ditemukan pada orang-orang dengan persepsi nyeri tinggi dibandingkan dengan orang dengan nyeri sedang, dengan persentase sebanyak 25 persen.

“Rasa sakit kronis dapat mempengaruhi setiap bagian kehidupan lainnya,” kata Onojjighofia. “Menemukan gen yang mungkin memainkan peran dalam persepsi rasa sakit dapat digunakan untuk mengembangkan terapi baru dan membantu dokter lebih memahami persepsi pasien terhadap rasa sakit.”

Penelitian ini didukung oleh Proove Biosciences, Inc.

Penelitian terkait juga telah menemukan bahwa kepribadian dapat mempengaruhi respon seseorang terhadap rasa sakit. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang introvert mengalami rasa sakit yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang ekstrovert. Para peneliti di Universitas Stanford juga melaporkan bahwa ada hubungan antara kecemasan dan tingkat rasa sakit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here