Bhataramedia.com – Sejumlah peneliti dari UT Medicine San Antonio dan Texas Liver Institute telah melakukan penelitian internasional terkait pengobatan terhadap penyakit hepatitis C. Data penelitian menunjukkan bahwa pengobatan oral terhadap penyakit ini selama 12 minggu telah menunjukan hasil yang sangat memuaskan.

Secara historis, tingkat penyembuhan penyakit hepatitis C pada pasien yang juga mengidap penyakit sirosis hati (jaringan normal pada hati digantikan oleh jaringan parut) biasanya lebih rendah dari 50 persen. Selain itu, pengobatan yang tersedia selama ini juga tidak aman untuk bagi sebagian besar pasien.

Virus hepatitis C merupakan penyebab utama penyakit sirosis, transplan liver dan kanker hati. Hal ini ditulis oleh Fred Poordad, M.D., di The New England Journal of Medicine. Sebelumnya, Dr. Poordad juga telah mempresentasikan data hasil penelitiannya di International Liver Congress di London.

UT Medicine adalah sebuah klinik praktik untuk para mahasiswa School of Medicine di University of Texas Health Science Center di San Antonio di mana Dr. Poordad mendapatkan gelar profesornya. Dia adalah wakil presiden Texas Liver Institute di San Antonio.

Sebelumnya, interferon merupakan agen yang paling efektif untuk mengatasi Hepatitis C, akan tetapi pasien sering merasakan kambuh dan terapi pengobatan ini menimbulkan banyak efek samping.

Dilansir EurekaAlert! (12/4/2014), studi yang dilakukan Dr. Poordad berusaha untuk membuat obat baru sebagai pengganti interferon. Dia dan rekan penelitinya mengembangkan Treatment pengobatan baru ini tidak menyertakan interferon dan hanya terdiri dari beberapa agen terapi seperti ABT-450/ritonavir, ombitasvir, dasabuvir, dan ribavirin.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak ada virus Hepatitis C yang terdeteksi di dalam aliran darah 91,8 persen pasien yang telah mengkonsumsi obat ini selama 12 minggu. Diantara pasien yang mendapat pengobatan sekitar 24 minggu lamanya, 95,9 persen dari mereka dinyatakan sembuh dan bebas virus hepatitis C selama 12 minggu pasca pengobatan tersebut.

Dr. Poordad menjelaskan bahwa interferon tidak aman dan tidak dapat ditoleransi oleh tubuh pada sebagian besar pasien pengidap sirosis. Dia juga menambahkan bahwa sebagian besar pasien pada studi ini juga tidak memenuhi syarat untuk melakukan terapi menggunakan interferon.

Salah satu pasien yang berhasil disembuhkan adalah seorang pensiunan ahli anastesi, Sergio Buentello, M.D. Dia didiagnosa mengidap penyakit hepatitis C sekitar 11 tahun yang lalu. Dr. Buentello telah menjalani pengobatan namun selalu merasakan efek samping. Jumlah viralnya menurun tetapi tidak sampai mencapai angka nol.

Eric Lawitz, M.D., salah seorang dokter di Texas Liver Institute, memberitahu Dr. Buentello tentang terapi pengobatan baru untuk penderita penyakit yang dideritanya. Awalnya Dr. Buentello ragu untuk menjalani terapi baru ini. Akan tetapi melihat hasilnya pada pasien lain, dia pun ikut menjalani terapi pengobatan tersebut untuk menyembuhkan penyakit hepatitis C-nya.

Akhirnya, dia berhasil sembuh total dan tidak ada lagi virus hepatitis C di dalam tubuhnya. Dr. Buentello merasa sangat beruntung hidup di zaman ini karena ia pernah berfikir bahwa mungkin penyakitnya tidak akan bisa sembuh.

Penelitian ini telah dipraktikan pada 380 pasien di 78 lokasi terapi yang berbeda. Lokasi yang menjadi pusat terapi ini adalah beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan/klinik di Spanyol, Jerman, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat. Para ahli medis telah mengambil sampel darah pasien sejak 3 tahun setelah terapi dan sejauh ini belum ada laporan adanya pasien yang penyakitnya kambuh.

Obat ini diharapkan akan segera dipasarkan di seluruh negara di akhir tahun 2014 ini atau awal tahun 2015.

Referensi Jurnal :

Fred Poordad, Christophe Hezode, Roger Trinh, Kris V. Kowdley, Stefan Zeuzem, Kosh Agarwal, Mitchell L. Shiffman, Heiner Wedemeyer, Thomas Berg, Eric M. Yoshida, Xavier Forns, Sandra S. Lovell, Barbara Da Silva-Tillmann, Christine A. Collins, Andrew L. Campbell, Thomas Podsadecki, Barry Bernstein. ABT-450/r–Ombitasvir and Dasabuvir with Ribavirin for Hepatitis C with Cirrhosis. New England Journal of Medicine, 2014; 140411220115009 DOI: 10.1056/NEJMoa1402869.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here