Bhataramedia.com – Melalui suatu naskah penelitian yang dipresentasikan di International Liver CongressTM 2014, telah ditemukan suatu senyawa baru yang bernama SBEL 1. Senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat aktivitas virus hepatitis C (HCV) di dalam sel.

SBEL 1 ialah suatu senyawa yang di isolasi dari tanaman obat di Cina, senyawa ini mampu menghambat aktivitas virus hepatitis C hingga sebesar 90 %. SBEL 1 di ekstrak dari tanaman obat yang ditemukan pada beberapa daerah di Taiwan dan Cina bagian selatan.

Pengobatan di Cina menggunakan tanaman obat tersebut untuk mengobati sakit tenggorokan dan radang. Fungsi dari SBEL1 di dalam tanaman obat belum diketahui, peran dan asal senyawa tersebut saat ini sedang diselidiki.

HCV menyerang sel-sel di dalam tubuh dengan cara mengikat reseptor spesifik pada sel sehingga memungkinkan virus untuk masuk ke dalam sel. Setelah masuk, HCV “membajak” fungsi sel yang dikenal sebagai transkripsi, translasi dan replikasi, sehingga memungkinkan HCV untuk membuat salinan dari genom virus dan protein. Salinan tersebut memungkinkan virus untuk menyebar ke bagian lain dari tubuh. Pada saat HCV memasuki sel inang, HCV melepaskan viral RNA (+) yang ditranskripsi oleh enzim RNA replikase menjadi viral RNA (-).

Viral RNA (-) dapat digunakan sebagai template (cetakan) replikasi genom virus untuk menghasilkan lebih banyak RNA (+) atau sintesis protein virus. Setelah RNA ditranskripsi, HCV memulai proses yang dikenal sebagai “translasi yang dimediasi oleh IRES”. Proses ini memungkinkan RNA virus di translasi menjadi protein dengan melewati pos pemeriksaan translasi protein tertentu yang biasanya akan diperlukan oleh sel inang untuk memulai translasi protein. Viral RNA merupakan bahan genetik yang memberikan HCV karakteristik khusus. Proses ini memungkinkan virus untuk mengambil keuntungan dari “mesin” translasi protein sel inang untuk keperluan virus tersebut.

Para ilmuwan memberikan perlakuan awal secara in vitro pada sel-sel hati manusia dengan menggunakan SBEL 1, sebelum sel hati diinduksi dengan HCV. Para ilmuwan menemukan bahwa sel hati yang sebelumnya diberi SBEL 1 mengandung protein HCV 23 % lebih sedikit dibandingkan sel kontrol (sel yang tidak diberi perlakuan). Hal ini menunjukkan bahwa SBEL 1 mampu memblokir masuknya virus ke dalam sel hati.

Para ilmuwan juga mencoba untuk memberikan perlakuan SBEL 1 pada sel hati manusia yang telah ditransfeksi dengan internal ribosome entry site (IRES)-driven luciferase reporter virus HCV. Hasil perlakuan menunjukkan bahwa sel hati manusia yang diberi SBEL 1 mengurangi aktivitas “reporter” virus sebesar 50% bila dibandingkan dengan sel kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa SBEL 1 mampu menghambat translasi yang dimediasi oleh IRES, dimana proses tersebut merupakan tahapan penting untuk memproduksi protein virus.

Selain itu, tingkat asam ribonukleat (RNA) HCV secara signifikan berkurang sebesar 78 persen pada sel-sel hati manusia yang sebelum terinfeksi HCV diberi SBEL1, bila dibandingkan dengan sel-sel kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa SBEL1 juga dapat mempengaruhi proses replikasi RNA virus.

Seperti dilansir EurekaAlert! (12/4/2014), Prof. Markus Peck-Radosavljevic, seorang Sekretaris Jenderal European Association for the Study of the Liver dan Associate Professor of Medicine di University of Vienna, Austria, berkomentar: “Orang yang terinfeksi hepatitis C berada pada risiko mengembangkan kerusakan hati yang parah termasuk kanker hati dan sirosis. Di masa lalu, kurang dari 20 persen dari semua pasien HCV dapat diberikan terapi, karena terapi yang tersedia sebelumnya memiliki tingkat keberhasilan rendah dan toksisitas yang tinggi. Kemajuan yang telah kita capai sekarang dapat menyembuhkan HCV tanpa efek samping yang tidak menyenangkan. Namun, dengan adanya genotip virus yang berbeda dan ditambah dengan kompleksitas penyakit, berarti masih ada kebutuhan besar yang belum terpenuhi untuk meningkatkan pilihan terapi pada semua populasi manusia. “

Profesor Peck-Radosavljevic menambahkan: “SBEL1 telah menunjukkan penghambatan yang signifikan terhadap HCV pada beberapa tahapan siklus hidup virus. Hal ini merupakan penemuan menarik karena memungkinkan kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai HCV dan interaksinya dengan senyawa lain. Pada akhirnya, hasil dari penelitian ini dapat menambah literatur pengetahuan kami sehingga dapat membawa kita lebih dekat untuk meningkatkan hasil pengobatan di masa mendatang. “

Diperkirakan, ada sekitar 150,000,000-200.000.000 orang yang hidup dengan HCV kronis dan lebih dari 350.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang terkait HCV. [iv] HCV ditularkan melalui kontak darah antara orang yang terinfeksi dan orang yang tidak terinfeksi. Hal ini dapat terjadi melalui luka jarum suntik atau berbagi peralatan yang digunakan untuk menyuntikkan narkoba.[v]

Catatan :

[i] C.W Lin et al. Multiple Effects Of Chinese Herbal Medicine SBEL1 On Hepatitis C Virus Life Cycle. Abstract presented at the International Liver Congress™ 2014
[ii] Scheel, T.K.H. and Charles M Rice, C.M. Understanding the hepatitis C virus life cycle paves the way for highly effective therapies. Nature Medicine, 2013; 19: 837-849
[iii] Komar, A.A. and Hatzoglou. Cellular IRES-mediated translation. Cell cycle, 2011; 10 (2): 229-240
[iv] European Comission. Horizon 2020. Breaking the Hepatitis C lifecycle. February 2014.
[v] Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis C FAQs for the Public. 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here