Bhataramedia.com – Emosi pada hewan merupakan salah satu hal yang masih dipelajari oleh para ahli. Beberapa hewan memperlihatkan kemampuan berekspresi sehingga sepertinya mampu memperlihatkan suatu emosi tertentu. Salah satu yang sedang dipelajari adalah emosi anjing seperti terlihatnya ekspresi merasa bersalah ataupun malu.

Hampir semua pemilik anjing pernah menemukan ekspresi rasa bersalah atau malu pada anjing setelah hewan tersebut melakukan sesuatu. Data-data ilmiah tidak menyatakan bahwa anjing tidak mampu mengekspresikan emosi. Namun, masih terdapat perdebatan mengenai kemampuan anjing dan hewan lain dalam merasakan dan mengekspresikan emosi-emosi yang kompleks seperti rasa bersalah, malu ataupun bangga.

Seperti dilansir Live Science (4/4/2014), ada beberapa alasan biologis yang dapat menjadi dasar asumsi bahwa anjing dapat mengalami rasa bersalah ataupun malu. Dalam sebuah essay berjudul “Can Dogs Experience Guilt, Pride, and Shame: Why Not?, pakar anjing, Vanessa Woods menyatakan bahwa para ahli belum dapat memastikan bahwa emosi anjing dapat memiliki rasa bersalah, bangga ataupun malu. Namun, telah ada klaim ilmiah bahwa hewan lain dengan dasar susunan syaraf yang serupa dengan anjing mampu merasakan ekspresi emosi yang kompleks sehingga tidak ada alasan bahwa anjing tidak mampu merasakan emosi yang sama.

Perlu diingat tentang salah satu ide Charles Darwin mengenai evolusi berkelanjutan yang menyatakan perbedaan diantara spesies lebih pada variasi tingkatan dibandingkan variasi dari jenis sehingga jika kita memiliki perasaan terhadap sesuatu maka seharusnya hewan-hewan yang lain juga bisa merasakannya.

Essay lain yang ditulis oleh Laura Moss yang dirilis pada Mother Nature Network dengan judul “Do Dogs Really Feel Guilt?” ditulis berdasarkan rangkuman dari penelitian yang dilakukan oleh Alexandra Horowitz yang merupakan seorang peneliti anjing dari Barnard College. Alexandra Horowitz mengemukakan bahwa manusia tidak terlalu peka dalam merasakan emosi anjing, seperti rasa bersalah ataupun malu. Seringkali yang kita tidak memahami emosi tersebut pada saat terjadi di anjing. Misalnya: pada saat anjing tidak merasakan (emosi bersalah ataupun malu), kita menduga bahwa anjing sedang mengalami emosi tersebut. Alexandra Horowitz mengungkapkan pendapat yang lebih mendalam dari konsep-konsep emosi pada hewan terutama anjing pada buku terbarunya yang berjudul “Domestic Dog Cognition and Behavior”.

Laura Moss menulis dalam essainya dengan mengutip Pascale Lemire yang juga merupakan pendiri dari website dogshaming. Dia menyatakan bahwa “saya tidak berpikir bahwa anjing benar-benar merasakan malu, kupikir para anjing tahu bagaimana menenangkan pemiliknya dengan penampilan sedih. Hal ini seringkali membuat kita berpikir bahwa anjing tersebut malu terhadap hal yang telah mereka lakukan”. Kutipan tersebut berasal dari essay lain tentang emosi anjing yang berjudul “Behaaviorists: Dogs feel no shame despite the look” yang dipublikasikan di USA Today. Ada banyak perdebatan mengenai kemampuan anjing dalam merasakan dan mengekspresikan emosi-emosi yang kompleks dan kebanyakan pendapat lebih berupa pendapat pribadi dan tidak disertai bukti-bukti dan data yang terkait dengan kemampuan anjing dalam merasakan emosi kompleks.

Ahli lain yang juga mengeluarkan pendapat ilmiah tentang emosi anjing adalah Marc Bekoff yang juga seorang profesor di Universitas Colorado. Ia adalah salah satu pionir peneliti etologi kognitif. Buku terbarunya berjudul “Why Gogs Hump and Bess Get Depressed” yang diterbitkan oleh New World Library pada tahun 2013. Isi buku tersebut salah satunya diadaptasi dari tulisan Marc Bekoff di kolom Emosi Hewan di salah satu terbitan Psychology Today. Dia mengkontribusikan tulisan artikel pada Expert Voices yang dirilis oleh LiveScience.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here