Bhataramedia.com – Masalah  kurang tidur sudah meluas dan menjadi epidemi kesehatan masyarakat yang luas. Para peneliti di Michigan State University dan University of California, Irvine, menemukan bahwa kurang tidur ternyata dapat menyebabkan gangguan atau kesalahan pada memori kita.

Penelitian tersebut menemukan bahwa para peserta penelitian yang kekurangan atau kehilangan waktu tidur malam lebih tinggi kemungkinannya untuk gagal menggambarkan detail tertentu pada saat diberi serangkaian gambar mengenai simulasi perampokan.

Penelitian tersebut dipublikasikan secara online di jurnal Psychological Science.

Gangguan atau distorsi memori memiliki akibat serius di berbagai bidang kehidupan, seperti pada peradilan pidana, dimana kesalahan mengidentifikasi saksi mata dapat mengakibatkan hasil keputusan yang salah.

“Setelah seseorang mengalami kurang tidur, kami menemukan terjadinya peningkatan gangguan memori,” kata Kimberly Fenn, profesor psikologi di MSU dan rekan peneliti studi tersebut.

“Saat ini, banyak orang telah mengalami kekurangan atau kehilangan waktu tidur setiap malamnya,” lanjut Kimberly, seperti dilansir Michigan State University (21/7/2014).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS telah menjadikan masalah kurang tidur sebagai suatu epidemi. Lembaga tersebut menyatakan bahwa masalah tersebut dapat berhubungan dengan bencana di sektor industri, kecelakaan lalu lintas dan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Para peneliti melakukan penelitian tersebut di MSU dan UC-Irvine untuk menganalisa serta mengukur pengaruh kurang tidur terhadap memori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada peserta yang terjaga selama 24 jam maupun peserta yang kekurangan jam tidur lima jam atau lebih sedikit, lebih tinggi kemungkinannya untuk melewatkan detail dari gambar simulasi yang diberikan dibandingkan peserta yang memiliki jam tidur malam yang cukup.

“Bagi orang-orang yang secara berulang kali memiliki jumlah jam tidur yang rendah setiap malamnya, secara jangka panjang akan lebih rentan untuk mengembangkan bentuk-bentuk gangguan atau distorsi memori,” pungkas Kimberly.

Referensi :

S. J. Frenda, L. Patihis, E. F. Loftus, H. C. Lewis, K. M. Fenn. Sleep Deprivation and False Memories. Psychological Science, 2014; DOI: 10.1177/0956797614534694.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here