Bhataramedia.com – Osteoartritis adalah penyakit degeneratif yang menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan sendi-sendi lutut. Sampai sekarang, tidak ada obat untuk osteoartritis lutut. Namun, para peneliti menyatakan bahwa meminum susu setiap hari telah dikaitkan dengan berkurangnya perkembangan penyakit itu.

Seperti dilansir Medical News Today (7/4/2014), para peneliti mengatakan bahwa wanita yang secara rutin meminum susu rendah atau bebas lemak akan mengalami penundaan perkembangan osteoartritis lutut. Saat ini, peningkatan perkembangan osteoartritis lutut telah dikaitkan dengan wanita yang sering mengkonsumsi keju. Namun, hal ini tidak berlaku untuk para pria.

Penemuan ini telah dimuat pada jurnal Arthritis Care & Research, American College of Rheumatology.

Mereka juga menyatakan bahwa yoghurt tidak mempengaruhi perkembangan osteoartritis. Center for Disease Control and Prevention atau CDC menjelaskan bahwa osteoartritis adalah hasil dari peristiwa mekanis dan molekuler di sendi-sendi tertentu. Ciri-ciri dari penyakit ini adalah degenerasi tulang rawan dan tulang landasan di sebuah sendi.

Bagaimanapun juga penyebab dari penyakit ini tidaklah diketahui. Perawatan yang telah ada hanyalah bertujuan untuk meringankan gejala dan meningkatkan fungsi sendi. Saat ini, perawatan yang tersedia berupa terapi fisik, control berat badan, dan penggunaan obat-obatan.

Menurut CDC, pada 2005 terdapat kira-kira 27 juta orang dewasa di Amerika dengan usia lebih dari 25 tahun yang menderita osteoartritis. Para peneliti mengatakan bahwa meminum susu telah ketahui memiliki peran yang penting dalam kesehatan tulang, tetapi baru sekarang diketahui bahwa perkembangan osteoartritis lutut pada wanita dapat dikurangi dengan meminum susu.

Hal inilah yang mendasari Dr. Bing Lu dan koleganya dari Brigham & Women’s Hospital di Boston, Massachusetts, menjalankan penelitian untuk menyelidiki efek dari konsumsi susu terhadap perkembangan osteosrtritis lutut. Sebanyak 2.148 orang yang menderita osteoartritis lutut dan total 3.064 lutut digunakan dalam penelitian osteoartritis ini. Setelah mengumpulkan informasi mengenai pola konsumsi peserta pada awal penelitian, lalu para peneliti mengukur ruang sendi di antara medial femur dan tibia dari lutut dengan sinar X, untuk mengetahui perkembangan osteoartritis.

Subjek dari penelitian adalah 888 pria dan 1.260 wanita. Jangka waktu penelitian adalah 12, 24, 36, dan 48 bulan dengan kuesioner Block Brief Food Frequency.

Para peneliti menemukan bahwa pada wanita yang asupan susunya ditingkatkan dari 0 ke kurang dari 3, 4 hingga 6, dan lebih dari 7 gelas per minggu, lebar ruang sendinya berkurang sebanyak 0.38 mm, 0.29 mm, dan 0.26 mm secara berturut-turut.

Meskipun obesitas dinyatakan sebagai faktor resiko untuk osteoartritis, namun para peneliti menyatakan bahwa tidak ada pengaruh obesitas terhadap hasil penelitian ini. Bahkan, setelah indeks massa tubuh setiap peserta disesuaikan, hasil penelitian ini tidak berubah.

Sebagai tambahan, para peneliti menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi susu dan pengurangan lebar sendi lutut pada pria.

Mengapa penelitian mereka mengenai perkembangan osteoartritis dilakukan terhadap wanita yang mengkonsumsi keju?

Dr. Lu menjawab bahwa asam lemak yang memiliki kejenuhan tinggi di keju merupakan penyebab penyakit ini.

Penelitian baru melaporkan bahwa peningkatan konsumsi asam lemak jenuh dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan terjadinya luka pada sumsum tulang dan hal ini menjadi salah satu gejala awal perkembangan osteoartritis.

Pada tajuk rencana di jurnal tersebut, Shivani Sahni, PhD, dan Dr. Robert McLean, dari Harvard-affiliated Hebrew SeniorLife Institute for Aging Research, menuliskan “Adanya penuaan populasi diiringi dengan peningkatan harapan hidup, sangat diperlukan adanya metode efektif menangani osteoartritis. Studi yang dipimpin Dr.Lu dapat menjadi bukti pertama bahwa meningkatkan konsumsi susu bebas lemak atau susu rendah lemak dapat memperlambat perkembangan osteoartritis pada wanita yang menderita penyakit ini pada lutut. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here