Bhataramedia.com – Kehadiran mikroba penghasil metana kemungkinan telah menyebabkan kepunahan massal yang terjadi 252 juta tahun yang lalu. Hal ini berdasarkan penemuan pada studi terbaru dari Massachusetts Institute of Technology.

Pada saat kepunahan di era Permian akhir / The end-Permian extinction (sekitar 252 juta tahun yang lalu), kehidupan di bumi hampir berakhir, setelah 96 persen dari semua kehidupan di laut dan 70 persen kehidupan di darat mengalami kepunahan.

Kepunahan massal tersebut terjadi hanya dalam rentang waktu 60.000 tahun, dimana hal ini merupakan kejadian yang berlangsung sangat cepat di dalam skala waktu geologi.

Letusan gunung berapi super (super volcano), kebakaran, dan bahkan dampak asteroid sebelumnya dianggap sebagai alasan terjadinya kepunahan massal ini. Akan tetapi, sekarang, para peneliti di MIT telah melaporkan bahwa penyebab kepunahan massal ini adalah Archaea penghasil metana yang disebut dengan Methanosarcina. Methanosarcina mengalami “blooming” dan mulai “memuntahkan” sejumlah besar gas metana di atmosfer. Gas metana pada jumlah besar ini kemudian mempengaruhi komposisi kimia di lautan sehingga mengubah iklim secara drastis. Kondisi lingkungan menjadi begitu “jahat” dan berakibat pada meninggalnya mayoritas kehidupan di bumi.

Batuan kuno dari Meishan, Cina, mengungkapkan bahwa pada era Permian akhir telah terjadi kenaikan kadar karbondioksida. Pada saat yang sama, terjadilah letusan Siberia (letusan gunung paling besar yang pernah terjadi di bumi).

Namun, perhitungan oleh tim di MIT menunjukkan bahwa gunung berapi saja tidak akan mampu melepaskan karbon yang cukup untuk menjadi penyebab bagi kepunahan tersebut.

“Injeksi atau muntahan sejumlah besar karbondioksida ke atmosfer akibat letusan gunung berapi berlangsung cepat dan biasanya akan diikuti oleh penurunan secara bertahap,” kata Gregory Fournier, seperti dilansir laman Nature World News (1/4/2014). “Namun, kita melihat sesuatu yang berkebalikan, dimana injeksi karbondioksida ke atmosfer berlangsung cepat dan terus meningkat”. “Hal inilah yang membuat perkiraan kami mengarah pada adanya ekspansi yang disebabkan oleh mikroba,” tambahnya.

Menurut peneliti, pertambahan populasi mikroba mampu meningkatkan produksi karbon.

Analisis genomik menunjukkan bahwa Methanosarcina memperoleh gen yang dapat membantunya untuk membuat metana dari asetat. Transfer gen ini terjadi di sekitar waktu Permian akhir.

Tim peneliti juga menemukan bahwa peristiwa vulkanik besar seperti letusan Siberia pada waktu Permian akhir memiliki peranan bagi “meledaknya” populasi Methanosarcina. Letusan Siberia telah “memuntahkan” deposit nikel dengan jumlah yang besar, dimana nikel merupakan bahan utama untuk pertumbuhan mikroba penghasil metana.

Penelitian ini didukung oleh NASA, National Science Foundation, Natural Science Foundation of China, dan National Basic Research Program of China. Naskah penelitian ini diterbitkan di jurnal Proceeding of National Academy of Science.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here