Beranda Environment Emisi Gas Metana Tingkatkan Pemanasan Global

Emisi Gas Metana Tingkatkan Pemanasan Global

1500
Gambar tersebut adalah gelembung gas metana yang naik ke permukaan perairan dan akhirnya terlepas ke atmosfer Arktik. (Photo : Natalia Shakhova/ University of Alaska Fairbanks)
Gambar tersebut adalah gelembung gas metana yang naik ke permukaan perairan dan akhirnya terlepas ke atmosfer Arktik. (Photo : Natalia Shakhova/ University of Alaska Fairbanks)
Gambar tersebut adalah gelembung gas metana yang naik ke permukaan perairan dan akhirnya terlepas ke atmosfer Arktik. (Photo : Natalia Shakhova/ University of Alaska Fairbanks)
Gambar tersebut adalah gelembung gas metana yang naik ke permukaan perairan dan akhirnya terlepas ke atmosfer Arktik. (Photo : Natalia Shakhova/ University of Alaska Fairbanks)

Bhataramedia.com – Menurut penelitian terbaru, jumlah gas metana yang dilepaskan oleh mikroorganisme yang berada di perairan air tawar (danau, sungai, dan sebagainya) akan meningkat beberapa kali lipat tiap °C naiknya temperatur bumi.

Selama ini, para ilmuwan telah banyak memberikan perhatian kepada perubahan iklim yang terkait dengan karbondioksida. Akan tetapi, ada fakta mengejutkan bahwa kemampuan metana untuk memerangkap (mengurung) panas ternyata 30 kali lebih besar dibandingkan karbondioksida. Jika panas yang terperangkap di atmosfer semakin banyak, maka hal ini akan meningkatkan pemanasan global.

Seiring dengan meningkatnya temperatur, emisi gas metana dari sumber air tawar (sumber emisi utama) akan melebihi jumlah karbondioksida.

Di dalam sistem air tawar, gas metana diproduksi sebagai produk samping pencernaan mikroorganisme yang memakan bahan organik. Proses yang dikenal sebagai methanogenesis ini merupakan proses kompleks yang menggabungkan beberapa faktor seperti; temperatur, kimia, fisika dan ekologi.

Para ilmuwan menunjukkan bahwa emisi metana dari sumber air tawar kemungkinan akan meningkat bersamaan dengan naiknya suhu global. Namun, akibat banyaknya proses yang mempengaruhi methanogenesis, para ilmuwan kesulitan untuk menjelaskan fenomena ini pada saat membuat model simulasi iklim. Pada penelitian sebelumnya, emisi metana dari perairan air tawar seperti danau, rawa-rawa dan sawah tidak dimasukkan sebagai parameter pada proyeksi iklim global. Namun, hal ini tidak memberikan keakuratan di dalam proyeksi iklim tersebut.

“Sistem air tawar yang dibicarakan di dalam naskah penelitian kami merupakan komponen penting yang berpengaruh terhadap sistem iklim”, kata rekan penulis studi, Cristian Gudasz dari Princeton University, seperti dilansir dari laman Nature World News (27/3/2014). “Ada lebih banyak bukti bahwa perairan air tawar memiliki kontribusi terhadap emisi metana. Metana yang dihasilkan dari sistem air tawar alami atau buatan manusia akan meningkat seiring dengan naiknya temperatur.”

Gudasz dan rekan-rekannya menganalisis hampir sebanyak 1.600 data temperatur dan pengukuran emisi metana dari 127 ekosistem air tawar di seluruh dunia. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi gas metana meningkat secara drastis di suhu yang tinggi.

Para ilmuwan telah mempelajari suatu skenario terkait emisi gas metana. Skenario tersebut menunjukkan bahwa emisi metana akan naik 57 kali lebih tinggi ketika terjadi kenaikan suhu dari 0 °C sampai 30 °C.

“Kita semua ingin membuat prediksi tentang emisi gas rumah kaca dan dampaknya terhadap pemanasan global,” kata Gudasz. “Hasil dari naskah penelitian ini akan memungkinkan kita untuk membuat prediksi yang lebih baik.”

Referensi Jurnal :

Gabriel Yvon-Durocher, Andrew P. Allen, David Bastviken, Ralf Conrad, Cristian Gudasz, Annick St-Pierre, Nguyen Thanh-Duc, Paul A. del Giorgio. Methane fluxes show consistent temperature dependence across microbial to ecosystem scales. Nature, 2014; 507 (7493): 488 DOI: 10.1038/nature13164.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here