Beranda Health Obesitas Berhubungan Dengan Kemampuan Mencerna Karbohidrat

Obesitas Berhubungan Dengan Kemampuan Mencerna Karbohidrat

nasi putih
Nasi putih, sumber utama makanan karbohidrat di Indonesia.

Bhataramedia.com – Penelitian menunjukkan bahwa obesitas dapat dikaitkan dengan bagaimana tubuh kita mencerna pati (amilum). Pati adalah senyawa yang biasa ditemukan di dalam makanan kaya karbohidrat seperti roti, nasi dan kentang.

Pada saat kita makan, enzim dalam air liur yang disebut amilase saliva memulai proses pencernaan dengan memecah pati yang ada di dalam karbohidrat menjadi gula. Enzim ini diproduksi oleh gen AMY1.

Gen AMY1 merupakan gen yang unik, tidak seperti kebanyakan gen lainnya yang hanya memiliki dua salinan. Seseorang dapat memiliki beberapa salinan dari gen AMY1. Semakin banyak salinan yang anda miliki, semakin banyak enzim yang anda hasilkan. Ada satu teori yang menyebutkan bahwa manusia telah berevolusi untuk membawa lebih banyak salinan gen AMY1, seiring dengan pola makan yang bergeser ke arah makanan kaya karbohidrat.

Seperti dilansir laman New Scientist (30/3/2014), Mario Falchi dari Imperial College London dan rekan-rekannya telah membandingkan urutan genom dari satu kelompok saudara, di mana salah satunya memiliki kelebihan berat badan dan yang lainnya bertubuh ramping. Mereka menyusun daftar pendek dari gen yang mungkin dapat membantu menjelaskan perbedaan diantara kelompok saudara tersebut. Selanjutnya, Para peneliti menemukan bahwa gen AMY1 berada pada daftar puncak terkait gen yang berbeda.

Selanjutnya, para peneliti mempelajari kelompok terpisah yang melibatkan 5000 orang dari Perancis dan Inggris. Para peneliti menemukan bahwa orang yang memiliki kurang dari empat salinan gen AMY 1 lebih cenderung menjadi gemuk daripada orang yang memiliki lebih dari sembilan salinan gen AMY1.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang yang “pandai” memecah pati menjadi gula (memiliki banyak salinan gen AMY1) cenderung tidak menjadi gemuk. “Namun, hal ini masih belum menjadi kesimpulan akhir karena tidak memperhitungkan amilase yang dihasilkan oleh pankreas”, kata Falchi.

“Ada kemungkinan bahwa efek dari gen penghasil amilase saliva tidak secara langsung mempengaruhi pencernaan karbohidrat dan banyaknya energi yang kita dapatkan”, katanya. “Proses tersebut kemungkinan melalui mekanisme yang lebih kompleks, seperti : pengaruh terhadap jalur pensinyalan (signalling pathway), atau perubahan pada mikrobiota usus.” Saat ini, studi lebih lanjut untuk menjelaskan mekanisme ini sedang dilakukan oleh para peneliti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here