Pada skala Pilot plant, para peneliti di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes CBP berupaya untuk memproduksi isobuatana dari bahan baku terbarukan.
Pada skala Pilot plant, para peneliti di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes CBP berupaya untuk memproduksi isobuatana dari bahan baku terbarukan. (Credit: © Gunter Binsack / Fraunhofer CBP)

Bhataramedia.com – “Bahan baku terbarukan adalah masa depan kita”. Motto ini tidak hanya berlaku untuk biodiesel, tetapi juga untuk isobutana. Isobutana adalah produk dasar yang digunakan dalam industri kimia. Saat ini, pada skala percontohan (pilot plant), para peneliti ingin membuat isobutana dari gula, tidak lagi menggunakan bahan baku berupa minyak bumi seperti sebelumnya. Mereka menargetkan bahwa pada jangka panjang, gulanya harus berasal dari kayu atau jerami dan bukan dari gula bit, hal ini dimaksudkan supaya tidak mengancam pasokan makanan. Para peneliti akan menyajikan studi terbarunya tersebut di Hannover Trade Fair / Industri Greentec di Hannover pada 7-11 April.

Saat ini, plastik, bensin, karet, dan sejumlah besar produk lainnya yang kita gunakan setiap hari berasal dari bahan baku berupa minyak bumi. Namun, bahan baku ini menjadi semakin langka. Secara bertahap, para peneliti berupaya menyelidiki kemungkinan untuk menggunakan bahan baku terbarukan sebagai pengganti minyak bumi. Salah satu contoh produk yang terkenal dari hal ini adalah biodiesel, dimana produk ini bukan berbahan baku minyak, tapi dari Brassica napus (tanaman penghasil minyak dari famili kubis-kubisan atau Brassicaceae). Di masa depan, metode tersebut direncanakan untuk dapat memproduksi senyawa lain dari tanaman, yaitu isobutana, dimana merupakan bahan kimia dasar yang digunakan dalam industri kimia untuk memproduksi bahan bakar, pelarut, elastomer atau bahkan agen antiketukan pada mesin. Gula akan digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan isobutana ini. Para peneliti di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes CBP, Leuna, berencana untuk mendirikan pabrik percontohan.

Produk Berharga Hasil Digesti Mikroorganisme

Metode dasar untuk pembuatan isobutana tersebut telah dirancang oleh staf perusahaan Global Bioenergies. Mereka memperkenalkan konversi metabolik unik untuk mengubah gula menjadi isobutena di dalam sel mikroorganisme. Jika gula ditambahkan ke media yang terdapat mikroorganisme ini, maka mikroorganisme akan “mencerna” gula tersebut dan akan dihasilkan produk samping berupa isobutana dalam bentuk gas. Untuk mengembangkan dan membangun pilot plant ini, Global Energies akan menerima pendanaan sebesar € 5.700.000 dari German Federal Ministry of Education and Research BMBF. Perusahaan ini akan menjadi rekanan bagi Kementerian tersebut untuk mengembangkan proses bioteknologi dan kimia pada pembuatan isobutana.

“Kami memiliki keahlian untuk proses bioteknologi dan kimia, dan kami memenuhi semua persyaratan untuk berhasil mendapatkan proyek tersebut” kata Gerd Unkelbach, Direktur CBP. “Sebagai contoh, kami dapat menangani pengemasan isobutana dengan baik. Seperti kita ketahui bahwa produk ini jika dicampur dengan udara maka akan menimbulkan ledakan.”

Pembangunan pabrik percontohan seluas 600 m2 akan dimulai di pusat teknis CBP pada musim gugur 2014 dan direncanakan akan beroperasi setahun kemudian. Proses industri pada skala besar ini akan mirip dengan penelitian yang dilakukan di laboratorium, dimana gula dan mikroorganisme dimasukkan ke fermentor, lalu mikroorganisme akan mengubah gula menjadi isobutana dalam bentuk gas. Selanjutnya, isobutana dipisahkan, dimurnikan, dibuat dalam bentuk cairan dan diisikan ke dalam wadah. Proses produksi pada skala pilot ini diperkirakan mampu menghasilkan hingga 100 ton isobutana per tahun.

Gula dari Selulosa pada Kayu

Penggunaan gula sebagai bahan baku dapat memberikan keuntungan yang besar dibandingkan bahan baku berupa minyak bumi, sebab gula dapat diperbarui. Namun, sebagai akibatnya, produksi isobutana bersaing dengan industri makanan, seperti yang kita ketahui bahwa gula yang seharusnya digunakan sebagai bahan makanan akan beralih fungsi menjadi bahan baku pada pabrik percontohan. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti ingin mengubah taktik produksinya di masa depan, yaitu tidak lagi menggunakan gula dari bit gula (tanaman berbunga penghasil sukrosa) namun menggantinya dengan gula dari bahan baku terbarukan lainnya yang tidak digunakan sebagai bahan makanan, misalnya kayu.

“Gula yang nantinya kami gunakan tidak akan bersaing dengan produksi pangan” jelas Unkelbach, seperti dilansir laman Fraunhofer-Gesellschaft (20/3/2014). Dasar teknologi ini sudah tersedia di biorefinery lignoselulosa (fasilitas untuk memecah lignoselulosa menjadi monosakarida), CPB. Di biorefinery ini, para peneliti telah mampu memecah selulosa pada kayu menjadi komponen yang lebih sederhana, yaitu gula, hemiselulosa dan lignin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here