Beranda Technology 3D MRI, Alat Pemindai Efektivitas Kemoterapi pada Pasien Tumor Hati

3D MRI, Alat Pemindai Efektivitas Kemoterapi pada Pasien Tumor Hati

3452
MRI
MRI Scanner untuk tujuan medis. (Credit: Jan Ainali)
MRI
MRI Scanner untuk tujuan medis. (Credit: Jan Ainali)

Bhataramedia.com – Pada serangkaian penelitian yang melibatkan 140 laki-laki dan perempuan Amerika yang menderita tumor hati, para peneliti di Johns Hopkins telah menggunakan pemindaian MRI 3 Dimensi Khusus untuk secara tepat mampu memindai jaringan tumor hidup dan mati. Hal ini bertujuan supaya dengan cepat dapat ditunjukkan apakah prosedur kemoterapi yang dilakukan secara langsung terhadap suplai darah pada tumor benar-benar bekerja.

Seperti dilansir laman Johns Hopkins Medicine (24/3/2014), para peneliti menjelaskan bahwa temuan mereka, yang akan dipresentasikan pada tanggal 22-27 Maret di San Diego pada pertemuan tahunan Society of Interventional Radiology, adalah “bukti prinsip” yang pertama yang menunjukkan bahwa teknologi ini dapat mencitrakan bentuk tumor dalam bentuk tiga dimensi dan secara akurat mengukur viabilitas tumor dan kematiannya. Data awal juga sudah presentasikan pada pertemuan tahunan Radiological Society of North America tanggal 01-06 Desember di Chicago.

Mereka juga menerangkan bahwa hasil penelitian mereka, baik pada pasien penderita kanker hati primer maupun pada pasien penderita tumor metastasis yang berasal dari kanker yang tumbuh di bagian lain dari tubuh mereka, adalah bukti bahwa penggunaan teknologi ini, baik sebelum dan sesudah perawatan, adalah cara yang lebih cepat dan lebih baik untuk memprediksi kelangsungan hidup pasien setelah prosedur kemoterapi dilakukan secara langsung pada tumor, dimana prosedur ini juga disebut kemoembolisasi.

Tidak seperti metode standar sebelumnya, dimana untuk memeriksa respon tumor setelah proses kemoembolisasi, yang didasarkan pada gambaran dua dimensi dan ukuran tumor, namun teknologi 3 Dimensi yang dikembangkan Johns Hopkins ini mampu membedakan antara jaringan yang mati dan yang hidup, sehingga menghasilkan hasil pemeriksaan yang akurat terhadap kematian sel tumor.

Teknologi baru ini berbasis metode standar 2 dimensi dan menggunakan analisis komputer untuk mengevaluasi jumlah pewarna kontras yang diserap oleh jaringan tumor. Pewarna tersebut disuntikkan ke tubuh pasien sebelum mereka menjalani pemindaian MRI untuk meningkatkan kualitas gambar. Para peneliti mengatakan bahwa jaringan hidup akan menyerap lebih banyak pewarna daripada yang diserap oleh jaringan mati. Hal inilah yang mempengaruhi tingkat kecerahan gambar dan juga dapat digunakan untuk pengukuran ukuran dan intensitas tumor.

“Gambaran 3 dimensi tumor berpresisi tinggi yang kami kembangkan dapat memberikan informasi yang lebih baik kepada pasien tentang apakah prosedur kemoembolisasi telah mulai membunuh tumor mereka, sehingga dokter dapat memperoleh informasi yang lebih baik untuk membuat rekomendasi pengobatan, ” kata ahli radiologi intervensi John Hopkins, Jean-Francois Geschwind, MD., peneliti senior pada proyek penelitian tersebut.

Geschwind, seorang profesor di Russell H. Morgan Department of Radiology dan Kimmel Cancer Center di Johns Hopkins University School of Medicine, mengatakan bahwa pengetahuan terhadap sejauh mana sebenarnya respon tumor terhadap kemoembolisasi adalah sangat penting bagi pasien penderita tumor dengan stadium sedang hingga lanjut, dimana tumor hatinya mungkin awalnya terlalu besar atau terlalu banyak untuk diangkat melalui prosedur pembedahan.

Pada studi pertama, peneliti membandingkan metode pencitraan standar dengan teknologi yang baru dikembangkan terhadap 17 laki-laki dan perempuan penderita kanker hati lanjut yang berasal dari Baltimore. Mereka semua dirawat dengan prosedur pembedahan atau transplantasi hati setelah kemoembolisasi. Tim peneliti menggunakan teknik analisis MR yang telah ada, serta metode 3 dimensi yang baru untuk membandingkan analisis ahli radiologi dengan ulasan patologis sampel tumor setelah terapi dan operasi pengangkatan. Menurut peneliti, margin error dari analisis pencitraan 3 dimensi baru ini cukup rendah (pada angka sampai dengan 10 persen) ketika digunakan untuk memprediksi jumlah jaringan tumor mati yang ditemukan oleh patolog, sedangkan metode standar 2 dimensi sebelumnya memiliki margin error sebanyak 40 persen dari nilai yang sebenarnya.

Pada serangkaian studi lanjutan, Geschwind dan timnya menggunakan baik teknik pencitraan standar maupun baru untuk menganalisis hasil pemindaian MRI terhadap lebih dari 300 tumor hati yang diderita sekitar 123 laki-laki dan perempuan lainnya, juga dari wilayah Baltimore. Semua pasien dirawat di Rumah Sakit Johns Hopkins antara tahun 2003 dan 2012, dan masing-masing menjalani pemindaian MRI pra dan pasca-kemoembolisasi untuk memeriksa efek terapi terhadap tumor. Dengan menggunakan metode 3 dimensi yang baru, tim Geschwind menemukan bahwa pasien yang merespon baik terhadap terapi mampu hidup selama 19 bulan lebih lama (rata-rata 42 bulan) dibandingkan dengan pasien yang tidak merespon dengan baik (rata-rata 23 bulan). Metode standar menunjukkan selisih kelangsungan hidup yang lebih kecil (rata-rata 18 bulan lebih lama) antara pasien yang memberikan respons terhadap terapi dan mereka yang tidak merespon.

Geschwind mengatakan bahwa peningkatan akurasi pada teknologi 3 dimensi ini dapat menghindarkan para dokter dari seringnya bergantung pada terkaan ketika mengevaluasi hasil perawatan. “Pemeriksaan menggunakan metode baru ini hanya memerlukan waktu beberapa detik”, tambah Geschwind, “Sehingga ahli radiologi dapat memberikan saran pengobatan yang lebih cepat dan hampir seketika.”

Geschwind dan timnya merencanakan perbaikan yang lebih jauh terhadap perangkat lunak tersebut untuk mencapai tingkat pendekatan baru yang lebih baik sebelum mereka melatih lebih banyak dokter untuk menggunakan perangkat tersebut. Dia juga memiliki rencana untuk mempelajari bagaimana perangkat lunak tersebut dapat mempengaruhi keputusan perawatan dan apakah pilihan terapi ini dapat membantu orang untuk hidup lebih lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here