GHB Orange
Ketika sensor yang disebut GHB Orange ditambahkan ke minuman yang telah dibubuhi GHB, terjadi perubahan intensitas warna pada campuran larutan tersebut. (Credit: Image courtesy of National University of Singapore)

Bhataramedia.com – Tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) telah mengembangkan sensor fluoresen pertama di dunia untuk mengidentifikasi adanya obat yang dikenal sebagai GHB yang biasa digunakan untuk membubuhi minuman. Ketika senyawa sensor dicampur dengan sampel minuman yang mengandung GHB, campuran berubah warna dalam waktu kurang dari 30 detik, hal ini membuat deteksi obat menjadi mudah dan cepat.

Seperti dilansir laman National University of Singapore (28/3/2014), proyek penemuan “campur dan lihat” sederhana ini, yang diketuai oleh Profesor Chang Young-Tae dari Jurusan Kimia Fakultas Sains NUS, adalah sebuah terobosan ilmiah baru yang memberikan kontribusi penting terhadap pencegahan masalah kekerasan seksual yang melibatkan penggunaan obat perangsang.

Temuan tersebut pertama kali diterbitkan dalam jurnal Chemical Communications awal tahun ini.

GHB: Obat Terkenal yang Digunakan Untuk Membubuhi Minuman

Asam Gamma-hidroksibutirat, umumnya dikenal sebagai GHB, merupakan depresan sistem saraf pusat yang dalam dunia medis dikenal sebagai obat bius, yang selama ini cukup umum digunakan. Pada tahun 1990-an, senyawa ini menjadi terkenal sebagai obat yang diduga digunakan dalam kasus pembubuhan minuman. Saat ini, minuman yang dibubuhi GHB adalah salah satu obat yang paling umum digunakan pada kasus perkosaan karena senyawa ini membuat korban tidak mampu melakukan perlawanan terhadap tindak kekerasan s*ksual.

Karena GHB tidak berbau, tidak berwarna, dan hanya sedikit asin, senyawa ini hampir tidak terdeteksi bila dicampur dalam minuman, sehingga membuatnya menjadi senyawa favorit bagi pelaku kejahatan s*ksual. Sejumlah kecil GHB, sekitar dua sampai empat gram, dapat mengganggu sistem kontrol pergerakan dan pembicaraan seseorang, dan bahkan dapat menyebabkan efek tidur semacam koma. GHB bereaksi dalam waktu 15 sampai 30 menit, dan efeknya dapat berlangsung selama 3-6 jam. Zat ini hanya bisa terdeteksi dalam urin pada waktu enam sampai 12 jam setelah konsumsi.

Sensor Fluoresen Mutakhir untuk Mendeteksi GHB

Penanda fluoresen telah banyak digunakan sebagai sensor untuk tujuan analisis karena sensitivitasnya yang tinggi, waktu respon yang cepat dan kesederhanaan teknis.

Di bawah pengawasan Prof. Chang, tim peneliti yang terdiri dari Dr. Zhai Duanting, seorang rekan peneliti, Mr Xu Wang, seorang kandidat PhD, serta Mr Elton Tan, seorang lulusan baru, dari Departemen Kimia Fakultas Sains NUS, diujilah 5.500 pewarna yang dihasilkan dari scaffold (perancah/struktur penyangga) fluoresens yang berbeda. Scaffold fluoresen tersebut telah digunakan untuk membangun Koleksi Fluoresen yang Berorientasi pada Keanekaragaman (Diversity Oriented Flouresens Library (DOFL)) yang dikembangkan oleh Prof. Chang selama satu dasawarsa terakhir.

Tim memilih 17 senyawa fluoresen dan selanjutnya menguji senyawa-senyawa tersebut dengan berbagai konsentrasi GHB yang berbeda. Melalui tes ini, tim mengidentifikasi bahwa senyawa fluoresen oranye, disebut sebagai GHB Orange, berubah warna bila dicampur dengan GHB.

Untuk menguji efisiensi GHB Orange, tim menguji kemampuan deteksi sensor tersebut dengan mencampur sejumlah kecil GHB Orange dengan berbagai sampel minuman, mulai dari minuman beralkohol, non-alkohol, berwarna dan tidak berwarna, yang mengandung GHB. Tes menunjukkan adanya perbedaan intensitas fluoresensi antara minuman yang bebas GHB dan minuman yang dibubuhi GHB. Untuk minuman yang jernih atau berwarna terang, seperti air atau vodka, perubahan warna dapat dengan mudah dideteksi menggunakan mata telanjang. Namun pada minuman berwarna gelap, seperti Cola dan wiski, deteksi perubahan warnanya membutuhkan bantuan penerangan tambahan.

Hebatnya, deteksi ini dapat dilakukan melalui proses “campur dan lihat” yang sederhana, dimana hanya memakan waktu kurang dari 30 detik .

Rencana Ke Depan

Meskipun GHB Orange telah terbukti efisien dalam mendeteksi GHB dalam minuman, namun masih ada kebutuhan untuk mengembangkan sebuah perangkat penguji yang dapat dibawa dan digunakan oleh pengguna dengan nyaman. Prof. Chang dan timnya berniat bekerja sama dengan mitra industri untuk mengembangkan perangkat praktis dan murah untuk deteksi GHB.

Referensi Jurnal :

Duanting Zhai, Yong Qiao Elton Tan, Wang Xu, Young-Tae Chang. Development of a fluorescent sensor for illicit date rape drug GHB. Chemical Communications, 2014; 50 (22): 2904 DOI: 10.1039/C3CC49603A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here