Bhataramedia.com – Melalui evaluasi terhadap bakteri dan fungi yang ditemukan dalam fosil kotoran (feses) manusia, para ahli mikrobiologi berupaya menyediakan bukti untuk membantu mendukung hipotesis arkeolog mengenai budaya hidup di Karibia pada masa lebih dari 1.500 tahun yang lalu. Mereka melaporkan temuan tersebut pada 20 Mei 2014 pada pertemuan tahunan American Society for Microbiology.

“Meskipun fosil feses manusia yang membatu (koprolit) sudah sering diteliti, namun fosil ini tidak pernah digunakan sebagai alat untuk menentukan etnisitas dan membedakan antara dua budaya yang telah punah. Dengan memeriksa DNA yang terawetkan dalam koprolit dari dua kebudayaan pribumi kuno, maka kelompok kami mampu menentukan bakteri dan populasi fungi yang berada pada setiap budaya serta kemungkinan mengenai pola konsumsi setiap masyakatnya, “kata Jessica Rivera-Perez dari University of Puerto Rico, Rio Piedras, seperti dikutip dari laman American Society for Microbiology (20/5/2014).

Berbagai kebudayaan pribumi telah menghuni Greater Antilles (sekelompok pulau di laut Karibia) semenjak ribuan tahun yang lalu. Republik Dominika dan Puerto Rico memiliki ribuan pemukiman pribumi pra-Columbus, dimana pemukiman ini berasal dari kebudayaaan kuno (dan telah punah) yang bermigrasi ke Karibia di beberapa masa dalam sejarah.

Penggalian arkeologi di Vieques, Puerto Rico, menemukan perkakas dan kerajinan buatan tangan serta fosil feses yang berasal 200-400 SM. Keberadaan dua pola yang berbeda dari ketrampilan tersebut, serta petunjuk lain yang diperoleh dari situs penggalian, maka disimpulkan bahwa artefak tersebut berasal dari dua kebudayaan yang berbeda.

“Salah satu kebudayaan unggul dalam seni tembikar, bahkan, penggunaan tanda tangan mereka berupa cat merah dan putih membantu mengidentifikasi mereka sebagai keturunan dari Saladoid, yaitu keturunan yang berasal dari Saladero, Venezuela. Sebaliknya, kebudayaan kedua memiliki seni yang indah untuk kerajinan batu semimulia dalam hal ornamen, beberapa seni diantaranya menggambarkan Kondor Andes (spesies burung Amerika Selatan). Hal ini membantu arkeolog untuk mengidentifikasi bahwa kebudayaan kedua, yang disebut kebudayaan Huecoid, mungkin berasal dari Bolivia Andes, “kata Rivera-Perez.

Untuk membantu mengkonfirmasi hipotesis para arkeolog, Rivera-Perez dan rekan-rekannya meneliti DNA terawetkan dalam koprolit dari permukiman Saladoid dan Huecoid dan membandingkan populasi bakteri dan fungi yang ditemukan di masing-masing pemukiman. Perbedaan mencolok yang terdeteksi antara populasi mikroba di koprolit pada masing-masing kebudayaan ini, memberikan dukungan tambahan bahwa mereka mungkin memiliki asal yang berbeda. Selain itu, Rivera-Perez dan rekan-rekannya juga menemukan DNA fungi dan jagung di koprolit Huecoid yang menunjukkan bahwa Huecoid mengkonsumsi minuman jagung fermentasi Andean. Temuan ini semakin menegaskan teori bahwa Huecoid berasal dari Bolivia Andes.

“Studi tentang paleomikrobioma dari koplolit mendukung hipotesis adanya beberapa leluhur pada kebudayaan di Greater Antilles dan dapat memberikan bukti penting tentang migrasi yang dilakukan oleh kebudayaan dan populasi Karibia kuno,” kata Rivera-Perez.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here