Treadmill
Treadmill Workstations. (Credit : Ben-Ner, et al., 2014).

Bhataramedia.com – Berangkat kerja dengan berjalan kaki tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan pekerja, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas kerja. Hal ini berdasarkan penelitian baru dari University of Minnesota yang baru saja diterbitkan di jurnal PLoS ONE.

Seperti dilansir laman University of Minnesota (3/3/2014), Avner Ben-Ner, seorang profesor di Carlson School of Management dan rekannya mempelajari karyawan yang menggunakan treadmill (alat fitnes untuk jalan dan lari di tempat) pada saat mereka bekerja. Subjek penelitian ini adalah 40 karyawan dari sebuah perusahaan jasa keuangan Twin Cities. Kantor mereka didesain ulang untuk memiliki komputer, telepon, dan meja di depan sebuah treadmill yang diatur dengan kecepatan dua mph. Para karyawan yang menjadi subjek dipelajari selama satu tahun dan data tentang kinerja, kegiatan dan peristiwa yang berhubungan dengan pekerjaan dikumpulkan melalui survei dari karyawan dan supervisor mereka. Selain itu, setiap karyawan subjek diberi perangkat untuk memantau pengeluaran energi selama sebulan sebelum menggunakan treadmill. Perangkat ini harus dipakai terus menerus selama jam aktif.

Hasil dari penelitian ini sangat memotivasi para karyawan. Treadmill memiliki dampak yang menguntungkan secara signifikan pada aktivitas fisik dan prestasi kerja. Seperti yang diharapkan, para pekerja yang menggunakan treadmill ternyata membakar lebih banyak kalori daripada sebelum studi dimulai (sekitar 7 sampai 8 persen per hari). “Ini tidak banyak, tetapi jika anda memiliki pekerja tetap yang tiap harinya “mobile”, ini adalah hasil yang baik,” kata Ben-Ner.

Pengamatan terhadap ‘Kenaikan Substansial’ Produktivitas Kerja

Hal yang lebih menarik adalah terjadi peningkatan tajam dalam produktivitas pekerja. Di awal terjadi penurunan kinerja, karena karyawan masih menyesuaikan diri untuk berjalan sambil mengerjakan tugas-tugas mereka, namun setelah mampu beradaptasi, produktivitasnya naik. Perhitungan produktivitas didapatkan dari survei karyawan dan pengawas kuantitas kinerja, kualitas kinerja, dan kualitas interaksi dengan rekan kerja. Kinerja mereka secara keseluruhan diukur dengan skala 1-10.

“Selama durasi penelitian, produktivitas meningkat mendekati satu poin, kata Ben-Ner. “Ini merupakan peningkatan yang substansial.” Ben-Ner menyebut hasil penelitian ini merupakan situasi yang sama-sama menguntungkan. “Ini adalah pilihan peningkatan kesehatan dengan biaya yang sangat sedikit. Saya pikir akan ada peningkatan jumlah pengusaha yang akan menginvestasikan $ 1.000 atau $ 2.000 untuk melengkapi tempat kerjanya dengan ruang olahraga,” katanya. “Karyawan akan lebih aktif dan sehat, selain itu juga lebih pintar karena lebih banyak darah yang mengalir ke otak.”

Ben-Ner menyarankan supaya penelitian di masa yang akan datang dapat memeriksa berbagai keadaan yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Mungkin dengan menggunakan karyawan yang fisiknya lemah atau karyawan yang memiliki tugas kognitif yang kompleks, sehingga dapat diperoleh relatifitas yang lebih luas dari penggunaan treadmill saat bekerja. Perbedaan umur antara karyawan juga mungkin memainkan peran pada kinerja mereka.

“Saya bertaruh bahwa di masa yang akan datang, sesuatu seperti ini lebih dapat diterima karena seseorang dibesarkan dan berkembang pada saat hal seperti ini (penggunaan treadmill) menarik perhatian,” katanya. “Hal ini tentunya akan lebih mudah daripada mencoba untuk membuat seseorang yang sudah berusia 50 tahun melakukan hal ini.”

Referensi Jurnal :

Avner Ben-Ner, Darla J. Hamann, Gabriel Koepp, Chimnay U. Manohar, James Levine. Treadmill Workstations: The Effects of Walking while Working on Physical Activity and Work Performance. PLoS ONE, 2014; 9 (2): e88620 DOI: 10.1371/journal.pone.0088620.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here