Bhataramedia.com – Tersembunyi di bawah vegetasi dan tanaman pangan Eria Valley, di León (Spanyol), ada jaringan pertambangan emas yang dibuat oleh orang Romawi dua ribu tahun yang lalu. Selain itu, ada karya-karya hidrolik yang kompleks, seperti pengalihan sungai untuk mengalihkan air ke tambang emas. Para peneliti dari University of Salamanca membuat penemuan dari udara dengan sistem teledeteksi laser.

Las Médulas di León dianggap sebagai tambang emas terbesar dari Kekaisaran Romawi. Pencarian logam mulia ini diperpanjang beberapa kilometer lebih jauh ke tenggara menuju lembah sungai Erica. Berkat sistem laser Light Detection and Ranging (LiDAR) yang melekat pada pesawat terbang, karya-karya pertambangan kuno dan sistem hidrolik kompleks yang digunakan oleh orang Romawi di abad ke-1 SM untuk mengekstrak emas (termasuk saluran, waduk dan pengalihan sungai) telah ditemukan.

“Volume bumi yang dieksploitasi jauh lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya dan karya-karya yang dibuat sangat mengesankan. Melalui pengalihan air sungai, lembah ini sangat penting di dalam konteks pertambangan Romawi di daerah timur laut dari Semenanjung Iberia,” kata Javier Fernández Lozano, ahli geologi di University of Salamanca dan rekan penulis studi yang diterbitkan di Journal of Archaeological Science.

Para ahli menganggap bahwa sistem untuk transportasi dan penyimpanan air ditiru dari yang sudah ada di Afrika Utara, dimana orang Mesir telah menggunakannya selama berabad-abad. Beberapa rincian metodologi yang digunakan muncul di dalam teks-teks dari Pliny the Elder, prokurator Romawi yang bertugas mengawasi pertambangan di Hispania.

“Kami telah menetapkan bahwa tenaga kerja yang masuk ke penggalian sangat kelelahan. Pekerjaan mereka begitu intensif, setelah mengeluarkan emas dari sedimen permukaan, operasi dilanjutkan hingga mencapai batu kuarsa yang mengandung emas di bawahnya,” jelas Fernandez Lozano, seperti dilansir Plataforma SINC (20/11/2014).

Peneliti menekankan bahwa penemu sebenarnya adalah teknologi LiDAR. Tidak seperti foto udara tradisional, sistem deteksi laser udara ini memungkinkan visualisasi peninggalan arkeologi di bawah tutupam vegetasi atau daerah yang dibajak secara intens.

LiDAR, dari pesawat hingga drone

LiDAR terdiri sensor laser yang memindai tanah dari pesawat terbang atau pesawat tanpa awak dengan referensi geografis yang disediakan oleh stasiun GPS. Data yang diperoleh diwakili oleh titik awan, yang diproses dengan software untuk membentuk suatu model kartografi sehingga dapat mengidentifikasi bentuk, seperti waduk atau saluran tua.

Teknologi ini dikembangkan oleh NASA pada tahun enam puluhan untuk menganalisis kemunduran lautan es di Kutub Utara dan komposisi lautan. Sejak saat itu, teknologi ini dikembangkan untuk untuk topografi, pemetaan kadaster, geologi dan arkeologi. Menurut penulis, studi pertambangan Romawi di lembah Eria adalah bagian pertama dari ‘geo-arkeologi’ yang dilakukan dengan menggunakan LiDAR di Spanyol.

“Tujuan kami adalah untuk terus bekerja dengan teknik ini untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pertambangan mineral di Kekaisaran Romawi dan menjelaskan misteri seperti mengapa Roma meninggalkan sumber daya yang berharga seperti emas,” pungkas  Fernandez Lozano.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here