Lebah anggrek
Lebah anggrek yang dilengkapi dengan radio tracker. (Credit: Christian Ziegler)

Bhatarmedia.com – Selama perubahan iklim di masa Pleistosen, lebah anggrek (orchid bee) neotropikal yang bergantung pada suhu hangat dan cuaca basah di sepanjang tahun telah mengalami pengurangan habibat sebanyak 30 sampai 50 persen. Hal ini berdasarkan studi yang menggunakan model komputer dan data genetik untuk memahami distribusi lebah selama perubahan iklim di masa lalu.

Pada studi sebelumnya, peneliti telah melacak lebah anggrek jantan dan betina dan menemukan fakta bahwa saat lebah betina tinggal di dekat sarangnya, ternyata lebah anggrek jantan bepergian. Salah satu studi menyimpulkan bahwa lebah jantan tersebut menjelajahi area sejauh 7 kilometer per hari. Temuan terakhir yang dikuatkan oleh data genetik dalam penelitian ini, mengungkapkan bahwa lebah jantan lebih “mobile” daripada lebah betina.

Penelitian yang dipublikasikan secara online dalam journal Molecular Ecology, memiliki implikasi penting bagi perubahan iklim di masa depan.

“Dataset memberikan kita gambaran bahwa jika terjadi kecenderungan dimana suatu area memiliki curah hujan yang lebih rendah dan dikombinasikan dengan adanya penggundulan hutan, maka habitat yang sesuai untuk lebah akan berkurang,” kata Margarita López-Uribe, peneliti dan seorang mahasiswa pascasarjana di Cornell, seperti dilansir laman Cornell University (19/3/2014).

Kabar baiknya adalah karena lebah anggrek jantan biasa bepergian jauh, maka mereka dapat menjaga populasi lebah dapat terhubung dan terjaga dengan baik.

“Lebah jantan mampu menjembatani pertukaran genetik antara populasi dan menjaga konektivitas meskipun terjadi fragmentasi atau penekanan terhadap habitat mereka,” kata López-Uribe. “Hal ini merupakan mekanisme yang kemungkinan besar dapat digunakan oleh lebah untuk mengatasi dampak negatif dari isolasi populasi akibat perubahan iklim dan deforestasi di masa depan.”

Dengan mengamati iklim dan distribusi lebah saat ini, López-Uribe dan rekannya mengkaji parameter kondisi iklim terhadap masing-masing dari tiga spesies lebah dalam genus Eulaema, dimana ketiganya dapat mentolerir kondisi iklim secara fisiologis, termasuk suhu dan variabilitas curah hujan. Dia menemukan bahwa salah satu dari tiga spesies, Eulaema cingulata, tiga kali lebih toleran terhadap berbagai kondisi iklim.

Dengan mengecualikan salah satu parameter yang menyebutkan bahwa toleransi secara fisiologis tetap konstan, para peneliti menunjukkan bahwa spesies cenderung berevolusi secara konservatif terkait kedudukan ekologisnya. Mereka menggunakan model komputer untuk mensimulasikan distribusi lebah pada masa lalu berdasarkan kondisi iklim di Pleistosin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di masa lalu, selama periode ketika neotropik memiliki curah hujan yang berkurang, masing-masing spesies mengalami penurunan yang signifikan di habitatnya yang sesuai, kecuali E. cingulata yang tetap mampu mempertahankan habitatnya pada rentang geografis terbesar sehingga tidak terjadi penurunan yang signifikan.

Simulasi model komputer tentang kedudukan ekologis dan iklim sangat berkaitan erat dengan data genetik dari dua spesies anggrek lebah yang kurang toleran. Data genetik termasuk penanda mitokondria yang hanya diwarisi dari betina, dan penanda nuclear (DNA yang terkandung pada inti sel organisme prokariotik) yang berasal dari jantan dan betina. DNA mitokondria menunjukkan bahwa individu lebah yang berasal dari satu wilayah geografis yang sama lebih berhubungan erat satu sama lain dibandingkan lebah dari daerah lain.

Temuan ini menunjukkan garis maternal lebah ini tetap berada di area set DNA yang sama dari waktu ke waktu. Namun, DNA nuclear bi-parental (DNA nuclear yang berasal dari jantan dan betina) menunjukkan lebih banyak variasi antar individu dalam suatu daerah, hal ini menunjukkan bukti bahwa lebah jantan melakukan perjalanan dan berbagi DNAnya dengan kelompok-kelompok di wilayah regional lainnya.

Lebah anggrek hidup di neotropik, yaitu sebuah ekozon yang memiliki lebih banyak hutan hujan tropis dibandingkan ekozon lainnya dan mencakup bagian dari Amerika Selatan dan Tengah, dataran rendah Meksiko dan kepulauan Karibia. Mereka adalah salah satu penyerbuk yang paling penting dan mengunjungi banyak jenis tanaman, termasuk sekitar 700 jenis anggrek yang secara eksklusif diserbuki oleh lebah ini.

Referensi Jurnal :

Margarita M. López-Uribe, Kelly R. Zamudio, Carolina F. Cardoso, Bryan N. Danforth. Climate, physiological tolerance and sex-biased dispersal shape genetic structure of Neotropical orchid bees. Molecular Ecology, 2014; DOI: 10.1111/mec.12689.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here