Bhataramedia.com – Peperangan tidak hanya mempercepat kemajuan teknologi manusia serta perubahan sosial dan politik yang luas. Namun, kemungkinan juga banyak menyumbang munculnya evolusi kecerdasan yang tinggi dan kemampuan untuk bekerja bersama menuju tujuan bersama manusia. Hal ini berdasarkan studi baru dari National Institute for Mathematical and Biological Synthesis (NIMBioS).

Bagaimana manusia berevolusi dengan kecerdasan yang tinggi memerlukan kegiatan kolaboratif yang kompleks. Berbagai konsekuensi dari memiliki otak besar telah lama membingungkan ahli biologi evolusi. Sementara otak manusia hanya mewakili sekitar dua persen dari berat tubuh, otak menggunakan sekitar 20 persen dari energi yang dikonsumsi. Konsekuensi lainnya dengan memiliki otak yang besar termasuk kebutuhan untuk perpanjangan masa pengasuhan karena masa pertumbuhan yang panjang, kesulitan melahirkan bayi dengan kepala yang lebih besar dan beberapa penyakit mental yang berhubungan dengan kompleksitas otak. Jadi bagaimana otak manusia berevolusi menjadi begitu besar dan kompleks?

Pertanyaan lainnya adalah bagaimana manusia mengevolusi preferensi bawaan yang kuat untuk perilaku kooperatif, mengingat perilaku kooperatif rentan terhadap eksploitasi oleh orang yang curang dan orang individualistis. Para individualistis tidak memberikan kontribusi atau bekerja sama dan dengan demikian mengurangi efektivitas usaha kolaboratif kelompok, sesuatu yang para ilmuwan sebut “masalah tindakan kolektif.” Dengan demikian, perilaku kolaboratif diperkirakan menjadi langka, dan memang, pada hewan itu biasanya terbatas untuk kerabat dekat. Manusia, bagaimanapun, adalah spesies unik yang memiliki kolaborasi yang luas dan tidak terbatas pada kerabat.

Di dalam studi baru yang diterbitkan di Journal of Royal Society Interface tersebut, penulis utama, Sergey Gavrilets, seorang profesor ekologi dan biologi evolusi dan matematika di University of Tennessee, Knoxville dan direktur NIMBioS untuk kegiatan ilmiah, mengembangkan model matematis yang menawarkan jawaban untuk kedua teka-teki evolusi.

Model yang digunakan di dalam studi tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan dan perilaku kooperatif dapat bersama-berevolusi untuk memecahkan masalah tindakan kolektif di dalam kelompok dan untuk mengatasi konsekuensi memiliki otak yang besar.

Penelitian tersebut menitikberatkan pada jenis tindakan kolektif yang paling efektif mempercepat kolaborasi. Menurut model, kemampuan kolaboratif berkembang paling mudah jika ada konflik langsung atau perang antar kelompok. Sebaliknya, kegiatan kolektif, seperti mempertahankan diri dari predator atau berburu makanan, sangat kecil kemungkinannya untuk menghasilkan peningkatan yang signifikan di dalam kemampuan kolaboratif.

Studi tersebut juga memprediksi bahwa jika kemampuan kolaboratif yang tinggi tidak dapat berkembang. Misalnya, karena konsekuensi memiliki otak besar terlalu tinggi, manusia akan memilih sebagian kecil orang dengan kecenderungan genetik yang sama untuk melakukan tindakan individual dengan konsekuensi tertentu, tetapi menguntungkan kelompok tersebut.

Selain itu, model tersebut juga menantang teori berpengaruh mengenai perburuan dan koalisi di dalam kelompok yang pertama kali muncul pada manusia. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa kelompok koalisi dan perburuan kolaboratif muncul pertama kali dan kemudian menciptakan kondisi untuk evolusi kerjasama di dalam konflik antar kelompok. Namun, model milik Gavrilets justru menunjukkan sebaliknya, kerjasama di dalam konflik antar kelompok muncul lebih dulu dari kelompok koalisi dan perburuan kolaboratif.

Kemampuan kita untuk secara efektif berkolaborasi dengan orang lain sebagian besar bertanggung jawab atas apa yang membentuk spesies kita. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana kemampuan ini pertama kali berevolusi ketika ada metabolisme yang besar dan biaya fisiologis yang berkaitan dengan ukuran otak manusia dan ketika kolaborasi dapat dengan mudah dirusak oleh spesies individual. Model tersebut menawarkan jawaban yang menekankan peran konflik antar kelompok di dalam membentuk fitur unik manusia,” kata Gavrilets, seperti dilansir National Institute for Mathematical and Biological Synthesis (26/11/2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here