Beranda Science Efisiensi Produksi Biodiesel dari Lemak Hewani Menggunakan Metode Superkritis

Efisiensi Produksi Biodiesel dari Lemak Hewani Menggunakan Metode Superkritis

2845
alligator
Alligaotr. (Photo: Matthew Field - http://www.photography.mattfield.com)
alligator
Alligaotr. (Photo: Matthew Field – http://www.photography.mattfield.com)

Bhataramedia.com – Lemak ayam, lemak babi atau lemak sapi tidak termasuk dalam daftar menu diet sehat. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa lemak tersebut (khususnya lemak alligator) dapat dimanfaatkan untuk produksi biofuel secara ekonomis dan ramah lingkungan. Studi ini menindaklanjuti penelitian sebelumnya tentang potensi penggunaan lemak alligator sebagai sumber bahan bakar biodiesel, dimana para peneliti telah mempresentasikannya pada Pertemuan Nasional ke-247 yang diadakan oleh American Chemical Society.

“Konversi dari lemak hewan menjadi biodiesel pernah dilakukan pada penelitian lain, tetapi prosesnya masih tradisional sehingga menghasilkan sejumlah besar limbah padat,” kata Thomas sampah, Ph.D, seperti dilansir laman American Chemical Society (17/3/2014). “Oleh karena itu, kami berupaya untuk membuat metode baru yang hanya menghasilkan sedikit residu.”

Dia juga mengatakan bahwa studi barunya yang memanfaatkan lemak yang berasal dari ayam, daging babi dan daging sapi merupakan cara yang jauh lebih praktis untuk implementasi secara komersial jika dibandingkan dari lemak alligator yang jumlahnya terbatas. Meskipun demikian, lemak ayam, daging babi dan daging sapi ataupun lemak alligator memiliki efektifitas yang sama jika digunakan sebagai bahan baku untuk membuat biodiesel.

Junk, seorang peneliti yang bekerjasama dengan University of Louisiana di Lafayette, menjelaskan bahwa pada studi lemak buaya sebelumnya, mereka menggunakan batch reactor (reaktor batch/terpisah) . Namun, pada studi ini digunakan reaktor alir untuk memproses lemak menjadi biodiesel.

“Kami mendirikan sebuah reaktor alir, dan proses konversi lemak buaya menjadi biodiesel terjadi hanya dalam beberapa menit,” kata sampah. “Hal ini sangat penting untuk manufaktur pada skala komersial, dimana Anda pasti ingin memproduksi sejumlah besar bahan bakar secepat mungkin.” Jika kita menggunakan reaktor batch, maka reaksi hanya berlangsung satu kali setiap saat di dalam batch yang terpisah. Namun pada reaktor alir, reaksi berlangsung pada aliran secara kontinyu.

Dia juga mengatakan bahwa bahan bakar yang dihasilkan dari berbagai lemak hewan sangat mirip dengan biodiesel yang diproduksi oleh metode tradisional, seperti memproduksi etanol dari jagung. “Jadi pendekatan pada studi ini, tidak berkaitan dengan produksi bahan bakar baru, tetapi lebih terkait dengan pembuatan bahan bakar (biodiesel) menggunakan metode yang lebih efisien, prosesnya murah, dan upaya menghilangkan produk samping berupa limbah padat,” jelasnya.

“Metode ini tidak memerlukan katalis, sebab biasanya katalis ini menghasilkan residu,” Jelasnya. Sebaliknya, kami menggunakan “metanol superkritis,” yang dipanaskan pada tekanan dan suhu yang cukup tinggi untuk memanfaatkan sifat metanol pada saat berwujud antara cairan dan gas.

“Keuntungan lain dari metode superkritis adalah bahwa lemak tidak harus diekstrak untuk proses pembuatan biodiesel,” kata Junk. Jadi, lemak tersebut digunakan secara langsung dalam bentuk raw material. Lemak dan metanol akan dihomogenkan di dalam slurry (campuran semicair di reaktor) dan dipompa ke dalam sistem reaktor. “Proses seperti ini akan mudah dilakukan oleh produsen biodiesel,” Dia menambahkan.

Pada studi sebelumnya, Junk dan tim penelitinya mencatat bahwa sebagian besar dari 700 juta galon biodiesel yang diproduksi di Amerika Serikat (data 2008) berasal dari minyak kedelai tanaman pangan lainnya. Namun, hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran akan naiknya harga makanan.

Dalam upayanya mencari bahan alternatif untuk biodiesel, mereka menemukan bahwa limbah dari lemak buaya, dimana jumlahnya mencapai jutaan pound yang tersedia setiap tahunnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif tersebut. Percobaan mereka menunjukkan bahwa minyak yang diekstraksi dari lemak aligator dapat dikonversi menjadi biodiesel dengan mudah. Selanjutnya, mereka berencana untuk menguji limbah dari lemak hewan lainnya, seperti lemak dari ayam dan sapi. Mereka memprediksi bahwa lemak ini juga dapat dikonversi menjadi biodiesel dengan mudah menggunakan sistem reaktor alir.

Penelitian ini merupakan proyek percontohan yang sebagian dananya diperoleh dari Departemen Kimia dan Teknik Kimia, University of Louisiana di Lafayette.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here