Bhataramedia.com – Penelitian terbaru mengenai seni batu tertua yang masih bertahan di Asia Tenggara menunjukkan bahwa orang pertama di kawasan tersebut, pemburu dan pengumpul yang tiba lebih dari 50.000 tahun yang lalu, membawa serta praktek seni yang kaya.

Dipublikasikan minggu ini di jurnal arkeologi Antiquity, penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang paling awal terampil menghasilkan lukisan hewan di tempat perlindungan batu dari barat daya China hingga ke Indonesia. Selain negara-negara ini, situs awal juga dicatat di Thailand, Kamboja dan Malaysia.

Professor Paul Taçon dari Griffith University Griffith University Chair in Rock Art, memimpin penelitian yang melibatkan kerja lapangan dengan tim kolaboratif internasional di lokasi pada beberapa negara.

Lukisan-lukisan tertua diidentifikasi dengan menganalisis tumpang tindih superimpostions seni di dalam berbagai gaya serta penanggalan numerik. Ditemukan bahwa seni tertua, paling utama terdiri dari gambar naturalistik hewan liar dan di beberapa lokasi berupa stensil tangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa seni batu di Sulawesi, Indonesia berusia 35.000 – 40.000 yang diumumkan pada bulan Oktober oleh Griffith University Research Fellow Senior Maxime Aubert bukanlah anomali. Sebaliknya, praktek ini tersebar luas di seluruh wilayah.

“Seperti seni awal di Eropa, gambar tertua di Asia Tenggara sering dimasukkan atau ditempatkan di dalam fitur alami permukaan batu.Hal ini menunjukkan keterlibatan tujuan pada masyarakat awal, alasan simbolis dan praktek,” kata Profesor Tacon, seperti dilansir Griffith University (26/11/2014).

“Pada dasarnya, mereka menghumanisasi lanskap di mana pun mereka pergi, mengubahnya dari tempat-tempat liar menjadi lanskap budaya. Ini adalah awal dari suatu proses yang berlanjut hingga hari ini,” lanjut dia.

Namun,tidak seperti di Eropa, seni batu tertua yang masih bertahan di Asia Tenggara lebih sering ditemukan di tempat perlindungan batu daripada gua yang dalam. Hal ini menunjukkan pengalaman di gua-gua yang dalam tidak dapat menjadi inspirasi bagi mereka.

Hal tersebut secara signifikan menggeser perdebatan mengenai asal-usul kesenian dan mendukung gagasan bahwa perilaku manusia yang fundamental ini dimulai dengan nenek moyang yang paling kuno di Afrika daripada di Eropa.

“Penelitian ini mendukung ide bahwa manusia modern membawa praktek membuat gambar semi permanen di lanskap berbatu ke Eropa dan Asia dari Afrika,” kata Professor Tacon.

Hasil ini tidak hanya memiliki implikasi untuk pemahaman kita mengenai seni batu di Asia dan Eropa Tenggara, tetapi juga Australia, karena di Kakadu-Arnhem Land dan bagian lain dari Australia bagian utara, seni batu tertua yang masih bertahan juga terdiri dari hewan naturalistik dan stensil.

Dengan demikian praktek membuat desain tersebut kemungkinan telah dibawa ke Australia pada saat kolonisasi awal. Namun, ada kemungkinan alternatif bahwa seni batu tersebut ditemukan secara independen atau dihasilkan dari bentuk-bentuk kontak budaya yang belum diketahui.

Ketiga kemungkinan sama-sama menarik. Penyelidikan baru di utara Australia dan Asia Tenggara saat ini sedang direncanakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here