Bhataramedia.com – Penelitian yang dilakukan di situs arkeologi Pleistosen dengan ketinggian tertinggi yang belum pernah teridentifikasi di dunia, membuka tabir baru pada kapasitas manusia untuk bertahan hidup di lingkungan yang ekstrim.

Temuan yang akan diterbitkan di academic journal Science edisi 24 Oktober tersebut, dilakukan pada situs di Cekungan Pucuncho yang terletak di pegunungan Andes Peru Selatan. Penelitian tersebut ditulis oleh tim peneliti termasuk arkeolog, Sonia Zarrillo, dari University of Calgary.

Situs utama, Cuncaicha adalah tempat perlindungan dari batu di ketinggian 4480 meter di atas permukaan laut, dengan bengkel peralatan dari batu di bawahnya. Ada juga sebuah situs bengkel Pucuncho dimana alat-alat batu yang dibuat berada di ketinggian 4355 meter di atas permukaan laut. Kondisi iklim di kedua lokasi yang keras, dengan faktor-faktor seperti rendahnya oksigen, udara dingin ekstrim dan radiasi matahari yang tinggi membuat hidup di wilayah tersebut merupakan tantangan bagi setiap manusia. Namun, temuan menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di zona dataran tinggi tersebut tinggal di dalam jangka waktu yang cukup lama. Cuncaicha dihuni sekitar 12,4-11.500 tahun yang lalu, sedangkan situs bengkel Pucuncho sekitar 12,8-11.500 tahun yang lalu.

“Kami tidak mengetahui apakah orang-orang tinggal di sana sepanjang tahun. Namun, kami sangat curiga mereka tidak hanya pergi ke sana untuk berburu selama beberapa hari, kemudian meninggalkan tempat tersebut,” kata Zarrillo.

“Bahkan kemungkinan ada keluarga yang tinggal di lokasi tersebut, karena kami telah menemukan bukti dari berbagai macam kegiatan,” lanjut dia.

Bukti arkeologis yang ditemukan di Cuncaicha termasuk tanda-tanda tempat tinggal seperti fragmen tengkorak manusia, sisa-sisa hewan dan alat-alat batu.

“Pemburu melewati suatu daerah akan mengambil daging kembali ke perkemahan dan meninggalkan bangkai di lapangan. Di Cuncaicha kami menemukan sisa-sisa yang mewakili keseluruhan hewan, yang menunjukkan bahwa mereka tinggal dekat dengan tempat tewasnya binatang. Jenis alat-alat batu yang kami temukan adalah tidak hanya alat untuk berburu, tetapi juga alat menggores yang digunakan untuk pengolahan kulit yang dapat digunakan untuk membuat hal-hal seperti pakaian, tas atau selimut,” jelas Zarillo.

Suatu teori ilmiah populer mengenai kolonisasi di dataran tinggi menunjukkan bahwa orang tidak dapat hidup di dataran tinggi sampai adaptasi genetik terjadi, seperti yang kita temukan pada orang Andean saat ini. Zarrillo mencatat bahwa orang andean secara genetik telah beradaptasi dengan lingkungan dataran tinggi.

Perbedaan utama di dalam masyarakat Andean termasuk tingkat metabolisme yang lebih tinggi, kapasitas paru-paru yang lebih besar dan konsentrasi hemoglobin yang lebih tinggi daripada rata-rata orang pada umumnya. Semuanya memungkinkan mereka untuk mengatasi kekurangan oksigen.

“Apakah adaptasi tersebut juga terjadi pada 12.400 tahun yang lalu? Kami tidak mengetahui secara pasti,” kata Zarrillo.

“Apa yang kami temukan menunjukkan bahwa orang-orang tersebut sudah mengembangkan adaptasi tersebut atau mereka dapat hidup pada ketinggian hanya di dalam jangka waktu tertentu. Menemukan hal ini merupakan salah satu tujuan dari penelitian kami di masa depan,” lanjut dia, seperti dilansir University of Calgary (23/10/2014).

Zarrillo percaya bahwa situs lain di wilayah tersebut memiliki potensi untuk penemuan menggemparkan selanjutnya, sebagian karena situs-situs tersebut diawetkan dengan sangat baik.

“Penelitian benar-benar belum dilakukan di sini sampai saat ini, karena begitu jauh. Tim kami mendaki tiga hingga empat jam untuk sampai ke situs-situs tersebut. Tim kami membawa semua perlengkapan, peralatan kemah dan makanan. Setiap malam suhunya sangat dingin dan kadang-kadang bersalju. Ini adalah situs yang sangat sulit untuk akses,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here