Bhataramedia.com – Para peneliti di UC San Francisco telah mengidentifikasi pola aktivitas genetik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis endometriosis dan tingkat keparahannya. Suatu temuan yang menawarkan alternatif bagi jutaan wanita untuk operasi melalui prosedur non-invasif yang sederhana.

Penelitian ini diterbitkan secara online di jurnal Endocrinology.

“Pendekatan diagnostik molekuler yang menjanjikan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kemajuan di dalam bidang genomik dan bioinformatika,” kata penulis senior, Linda Giudice, M.D., Ph.D., profesor dan ketua kebidanan, ginekologi dan ilmu reproduksi di UCSF.

“Hal yang penting adalah adaanya sedikit gen di setiap ‘classifier’ penyakit dan stadium endometriosis yang memiliki potensi untuk pengembangan diagnostik non-bedah,” lanjut Giudice.

“Pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi kekambuhan penyakit tanpa memerlukan pembedahan. Selain itu, profil gen baru yang telah diidentifikasi dan jalur yang dihasilkan dari pendekatan ini telah membuka pintu untuk pengembangan terapi target yang inovatif untuk nyeri terkait endometriosis dan infertilitas,” jelas dia, seperti dilansir University of California – San Francisco (24/11/2014).

Endometriosis adalah kondisi yang sering menyakitkan, kondisi ini terjadi ketika jaringan yang biasanya melapisi bagian di dalam rahim tumbuh di luar rahim.

Diperkirakan, sekitar 10 persen wanita usia reproduksi menderita gangguan tersebut. Kelainan ini sering disebabkan oleh menstruasi retrograde. Jaringan endometrium mengalir mundur melalui saluran tuba dan ke dalam rongga panggul, bukannya keluar melalui serviks. Jaringan ini melekat dan terus mengikuti siklus menstruasi bulanan, sehingga terjadi pendarahanyang  menyebabkan peradangan, luka dan rasa sakit. Endometriosis juga dapat menyebabkan kemandulan.

Metode pengobatan endometriosissaat saat ini menggunakan laparoskopi, prosedur pembedahan yang mendiagnosa dan menentukan tahap endometriosis yang terjadi pada lapisan panggul dan organ. Namun, keterlambatan waktu dapat lebih dari satu dekade sejak awal gejala hingga diagnosis. Sehingga diperlukan metode pendekatan yang kurang invasif dan lebih hemat biaya.

Di dalam studi tersebut, Giudice dan rekan-rekannya menggunakan teknologi berbasis komputer untuk menganalisis aktivitas gen dari sampel jaringan endometrium. Mereka menganalisis 148 sampel, 77 dari wanita dengan endometriosis, 37 tanpa endometriosis tetapi dengan masalah rahim / panggul lainnya seperti fibroid rahim dan 34 dari wanita tanpa kondisi rahim apapun sebagai kelompok kontrol.

Komputer tersebut dapat digunakan oleh peneliti untuk meneliti interaksi yang disebabkan oleh informasi pada sejumlah besar gen yang diterjemahkan menjadi protein melalui proses yang disebut ekspresi gen.

Dengan akurasi 90-100 persen, sistem pengelompokan dari sampel dikembangkan. Peneliti tidak hanya dapat membedakan antara sampel dari pasien endometriosis dan kelompok kontrol tetapi juga antara pasien endometriosis dan pasien dengan gangguan rahim lainnya. Mereka bahkan dapat menentukan perbedaan antara tahap endometriosis.

Teknik tersebut juga dapat membedakan endometriosis pada titik-titik yang berbeda di dalam siklus menstruasi. Seiring perubahan kadar hormon sepanjang siklus, pola ekspresi gen pada lapisan rahim wanita dengan endometriosis berbeda dari wanita yang tidak memiliki kondisi tersebut.

“Berdasarkan ekspresi gen tersebut, suatu  tes sederhana akhirnya dapat dilakukan di kantor dokter untuk menentukan endometriosis dan tahapannya,” kata Giudice. Di dalam beberapa menit saja, kateter plastik kecil dan tipis dapat dimasukkan melalui leher rahim ke dalam rahim untuk mengambil sampel sel untuk analisis.

“Laparoskopi melibatkan anestesi umum dan membuat sayatan di perut,” kata rekan penulis, Louis DePaolo, Ph.D., kepala Fertilitas/ Infertilitas Cabang National Institutes of Health (NIH) Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

“Temuan ini menunjukkan bahwa dimungkinkan untuk menghindari prosedur bedah dan mendiagnosa endometriosis dari sampel jaringan yang diperoleh di dalam pengaturan kantor tanpa anestesi,” lanjut DePaolo.

Langkah berikutnya adalah untuk memvalidasi temuan di dalam populasi yang lebih besar dan NIH NICHD Reproductive Medicine Network telah meluncurkan uji klinis multisite.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here