BHATARAMEDIA.COM – Mengenal Fenomena Puting Beliung di Indonesia Angin puting beliung menyentak perhatian publik beberapa waktu belakangan karena terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Menurut Kabag Humas BMKG, puting beliung merupakan fenomena yang normal terjadi terutama di musim peralihan, baik dari musim panas ke musim hujan, atau dari musim hujan ke musim panas. “Baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dan musim hujan saat kondisi cuaca pagi cerah dan terik,” ungkap Hary seperti dilansir tribunnews.com. Ia juga menambahkan bahwa fenomena angin kencang ini biasanya hanya berlangsung beberapa menit saja dengan cakupan wilayah mencapai 5-10 km.

Karakteristik utama dari angin puting beliung adalah terjadi secara lokal dan jarang melanda tempat yang sama berulang kali. Sementara untuk waktu kejadiannya, puting beliung bisa terjadi kapan saja, mulai dari pagi hingga malam hari. Meski sulit terdeteksi, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertanda akan datangnya puting beliung dalam waktu dekat. Yang pertama adalah perubahan suhu udara. Biasanya sehari menjelang terjadi, udara terasa panas tidak seperti biasanya. Kemudian keesokan harinya akan terlihat formasi awan cumulus dengan bentuk berlapis.

Dari gugusan awan tersebut, ada bagian yang memiliki tepi sangat jelas sebab warnanya lebih gelap. Perlahan-lahan awan akan terlihat semakin menghitam, dimana fase ini dikenal juga dengan sebutan awan cumulonimbus. Ketika sudah mencapai puncaknya, puting beliung akan terjadi dengan kekuatan yang besar, cukup untuk merusak bangunan dan menumbangkan pepohonan. Fenomena ini juga kerap diikuti oleh hujan yang datangnya secara tiba-tiba.

Proses terbentuknya angin puting beliung

Terbentuknya puting beliung melewati fase-fase berikut:

  • Fase tumbuh: ditandai dengan pergerakan udara ke atas dengan tekanan yang kuat. Arus udara tersebut terjadi di dalam awan. Belum ada hujan disini sebab air masih terus bergerak naik.
  • Fase dewasa: pada fase ini hujan sudah mulai turun sebab kekuatan angin sudah tidak lagi mampu menahan beban air. Turunnya titik air akan menciptakan gesekan pada arus naik dan turun. Disini juga terjadi disparitas suhu, dimana massa udara yang bergerak turun punya suhu lebih rendah dibandingkan dengan suhu di sekitarnya. Gesekan yang konstan tersebut pada akhirnya akan mendorong terbentuknya pusaran, dimana ketika sudah menyentuh bumi akan disebut sebagai puting beliung.
  • Fase punah: setelah beberapa saat, massa udara naik akan berkurang secara signifikan, sehingga mengakhiri proses tumbuhnya awan.

Puting beliung vs badai

Kedua fenomena alam ini ditandai dengan arus angin yang kuat, namun masing-masing punya karakteristik yang berbeda. Puting beliung terjadi dalam waktu yang singkat, rata-rata kurang dari 30 menit, sementara badai bisa menyapu daratan selama sepekan. Perbedaan lainnya bisa dilihat dari skala kerusakan yang ditimbulkan. Dalam hal ini, kerusakan akibat puting beliung relatif lebih ‘lokal’ atau terbatas ketimbang kerusakan oleh badai yang bisa melingkupi satu provinsi.

Untuk di Indonesia sendiri, fenomena badai jarang terjadi. Yang lebih sering bahkan kerap terjadi beberapa waktu terakhir adalah puting beliung, dimana fenomena ini biasanya ditandai oleh kehadiran awan cumulonimbus. Itulah yang menjadi alasan mengapa BMKG selalu fokus memantau pembentukan awan cumulonimbus lewat citra satelit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here