BHATARAMEDIA.COM – Di Balik Kampanye Makanan Sehat Bebas Gluten Pada kemasan makanan kita seringkali melihat label seperti low fat, low sugar, dan sejenisnya. Lalu, apa sebenarnya yang menjadi concern dari penambahan label tersebut? Tujuannya adalah agar konsumen menjadi lebih paham kandungan di dalam makanan yang mereka beli. Biasanya penekanan pada label menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ‘tidak beres’ dengan kandungan yang dimaksud. Dan itu memang benar adanya. Ketika sebuah produk dilabeli low sugar, itu bertujuan untuk memberi warning terutama bagi mereka yang bermasalah dengan kadar gula darahnya. Ini juga bisa menjadi solusi bagi mereka yang ingin membatasi konsumsi gula sebab zat yang satu ini bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti diabetes.

Label gluten free

Dari sekian banyak label makanan, label gluten free mungkin masih terasa asing di telinga anda. Apa sebenarnya gluten? Gluten merupakan sejenis protein yang terdapat pada biji-bijian seperti gandum. Ada dua komponen utama di dalamnya, yaitu gliadin dan glutenin. Dari keduanya, gliadin merupakan yang paling berperan dalam menimbulkan masalah kesehatan.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka mengkonsumsi gluten dalam jumlah besar setiap harinya. Gluten banyak terkandung di dalam tepung terigu yang bahan baku utamanya adalah gandum. Saat tepung terigu dicampur dengan air, protein gluten akan membentuk struktur yang lengket. Kandungan inilah yang membuat makanan berbahan dasar terigu menjadi elastis dan mengembang saat dipanggang.

Dampak negatif konsumsi gluten

Intoleransi: perhatian besar yang diberikan pada makanan ber-gluten tidak lepas dari meningkatknya kasus penyakit celiac di masyarakat. Orang-orang dengan penyakit ini tidak bisa mentoleransi gluten sama sekali, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun. Jika tidak sengaja termakan, gluten akan men-trigger reaksi autoimun, membuat lapisan di usus menjadi terluka. Akibatnya, penyerapan nutrisi menjadi terganggu. Komplikasi yang lebih serius bisa muncul dalam bentuk kerusakan sistem saraf, infertilitas, osteoporosis, dan kejang-kejang.

Sensitivitas: sensitivitas terhadap gluten lebih umum ketimbang intoleransi. Pada orang dengan masalah sensitivitas, mereka masih bisa mengkonsumsi gluten, tapi tetap bisa merasakan efek sampingnya. Reaksi yang muncul berbeda-beda pada setiap individu, seperti kelelahan, diare, perut kembung, dan sakit pada persendian.

Inflamasi saluran cerna: inflamasi merupakan respons alami tubuh ketika ada luka. Inflamasi akibat gluten tidak hanya mempengaruhi orang-orang yang punya penyakit celiac saja, tapi juga mereka yang punya sensitivitas terhadap zat yang satu ini.

Permeabilitas usus: inflamasi berkelanjutan akan membuat permeabilitas usus meningkat. Usus punya sistem pertahanan yang mampu mem-filter zat-zat yang masuk ke tubuh. Setiap harinya kita menghirup jutaan partikel mikro seperti virus, bakteri, debu, dll. Sistem pelindung ini memastikan agar zat-zat yang berbahaya tidak masuk ke aliran darah. Namun saat inflamasi terjadi, sistem tersebut akan melemah, sehingga peluang masuknya zat-zat tadi menjadi lebih besar. Permeabilitas usus merupakan hal yang serius sebab ini merupakan salah satu faktor pendorong terbentuknya penyakit autoimun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here