Bhataramedia.com – Menderita sakit karena infeksi dapat membuat kita merasa buruk. Lalu, apa yang terjadi dengan ekosistem bakteri atau mikrobiota di dalam usus kita pada saat terjadi infeksi? Suatu studi dari Brigham and Women’s Hospital (BWH) telah memanfaatkan model komputasi yang unik untuk menunjukkan bagaimana infeksi dapat mempengaruhi bakteri yang secara alami hidup di usus kita. Temuan ini pada akhirnya dapat membantu dokter untuk lebih mengobati dan mencegah infeksi gastrointestinal dan peradangan melalui pemahaman yang lebih baik terhadap perubahan besar yang terjadi ketika bakteri asing mengganggu mikrobiota usus.

“Usus kita mengandung sel-sel bakteri sepuluh kali lebih banyak daripada sel-sel di dalam tubuh kita,” kata Lynn Bry, MD, Ph.D., direktur BWH Center for Clinical and Translational Metagenomics dan penulis senior studi ini. “Perilaku ekosistem bakteri yang kompleks ketika diserang oleh infeksi dapat memiliki dampak besar pada kesehatan kita,” lanjut dia.

Studi ini diterbitkan tanggal 11 Juli 2014 di PLoS ONE.

Georg Gerber, MD, Ph.D, MPH, wakil direktur di BWH Center for Clinical and Translational Metagenomics dan rekan penulis pertama studi ini, telah mengembangkan algoritma komputer baru untuk menganalisis berbagai tahap infeksi ketika patogen yang dikenal sebagai Citrobacter rodentium (penyebab penyakit pada tikus yang mirip dengan keracunan makanan pada manusia) diperkenalkan ke dalam usus tikus. Bry dan timnya menganalisis data time-series selama dua bulan dari tingkat populasi bakteri di seluruh lokasi di dalam usus. Kerangka komputasi bernama Microbial Counts Trajectories Infinite Mixture Model Engine yang dikembangkan oleh Gerber, digunakan untuk mengidentifikasi perubahan dinamis di dalam ekosistem kompleks bakteri usus yang berhubungan dengan infeksi dan peradangan.

Para peneliti mengamati banyak gangguan di dalam bakteri normal pada lokasi yang berbeda di dalam usus selama infeksi. Misalnya, mereka menemukan bahwa genus Mucispirillum yang biasa ada di dalam usus besar menunjukkan penurunan pada awal infeksi sebelum timbulnya gejala. Tanda-tanda lainnya termasuk peningkatan populasi bakteri famili Clostridiales dan Lactobacillales yang terjadi setelah patogen telah menghilang. Menariknya, beberapa kejadian tersebut terjadi di lokasi usus di mana patogen tidak secara langsung merusak sel inang.

“Dari perspektif klinis, perilakua mikroba usus yang telah kami identifikasi tersebut dapat membantu dokter mendeteksi tahap awal peradangan atau penyakit persisten yang hampir tidak kelihatan pada pasien dengan gangguan pencernaan, seperti penyakit radang usus,” kata Bry.

“Selain itu, beberapa perilaku mikroba yang telah kami identifikasi dapat dimanfaatkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dari kondisi infeksi dan inflamasi lainnya,” pungkas Bry, seperti dilansir Harvard Medical School (11/7/2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here