Bhataramedia.com – Menurut penelitian terbaru, obat  yang sering diresepkan untuk mengatasi arthritis dan nyeri dapat meningkatkan risiko kematian akibat stroke. Penelitian tersebut diterbitkan tanggal November 5, 2014, di Neurology®, jurnal medis dari American Academy of Neurology. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), stroke adalah penyebab utama kematian keempat di Amerika Serikat.

Obat-obatan yang diteliti di dalam penelitian tersebut, disebut COX-2 inhibitor, termasuk obat-obatan versi lama, seperti diclofenac, etodolac, nabumeton and meloxicam, serta obat-obat baru yang disebut coxib, termasuk celecoxib dan rofecoxib. COX-2 inhibitor merupakan selective nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID). Penelitian ini juga melihat NSAID non-selektif, yang meliputi penghilang rasa sakit umum seperti ibuprofen dan naproxen.

“Sementara versi yang lebih baru dari obat-obatan COX-2 inhibitor telah ditarik dari peredaran, versi obat yang lebih lama masih sering diresepkan,” kata penulis studi, Morten Schmidt, M.D., dari Aarhus University Hospital di Aarhus, Denmark.

“Studi kami memberikan bukti penting lebih lanjut yang memperkuat hubungan antara obat-obatan penghilang rasa sakit tertentu dengan kematian akibat stroke,” lanjut dia, seperti dilansir American Academy of Neurology (05/11/2014).

Di dalam penelitian tersebut, para peneliti melihat catatan 100.243 orang yang dirawat di rumah sakit untuk kejadian stroke pertama di Denmark antara 2004 dan 2012 dan kematian  di dalam waktu satu bulan setelah stroke. Peneliti kemudian melihat apakah para pasien merupakan penggunai, mantan, atau non-pengguna obat tersebut di dalam waktu dua bulan setelah stroke. Jika mereka pengguna, para peneliti mencatat apakah orang-orang tersebut merupakan pengguna baru yang baru saja mulai mengambil obat untuk pertama kalinya atau yang sudah menggunakannya di dalam jangka panjang. Para peneliti kemudian melihat jenis-jenis obat yang digunakan;  COX-2 inhibitor generasi baru,  COX-2 inhibitor generasi lama dan NSAID non-selektif.

Secara keseluruhan, orang-orang yang saat ini menggunakan COX-2 inhibitor, 19 persen lebih mungkin meninggal setelah stroke daripada orang yang tidak menggunakan obat ini. Pengguna baru dari versi obat-obatan COX-2, 42 persen lebih mungkin untuk meninggal akibat stroke dibandingkan mereka yang tidak menggunakan obat ini. Mereka yang menggunakan etodolac, 53 persen lebih mungkin untuk meninggal akibat stroke.

Para peneliti tidak menemukan hubungan antara NSAID non-selektif dan peningkatan kematian akibat stroke. Selin itu, studi ini tidak menemukan hubungan antara penggunaan kronis dari salah satu obat NSAID non-selektif dan kematian akibat stroke.

Sebanyak 10.835 peserta (11 persen) adalah pengguna NSAID, 8402 (8 persen) adalah mantan pengguna dan 80.806 (81 persen) adalah non-pengguna. Dari semua pengguna NSAID, 51 persen menggunakan ibuprofen, 27 persen menggunakan diclofenac, 11 persen menggunakan etodolac, tiga persen naproxen, celecoxib satu persen dan rofecoxib 0,5 persen.

“Studi kami mendukung peningkatan upaya untuk memastikan orang-orang dengan risiko stroke tinggi tidak diresepkan dengan obat-obatan tersebut ketika pilihan lain yang tersedia,” kata Schmidt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here