Bhataramedia.com – Untuk meningkatkan mutu pendidikan, dibutuhkan sosok guru yang berkualitas dan profesional. Guru yang dimaksud adalah guru yang telah mendapatkan berbagai program pelatihan tersistem supaya tetap konsisten dalam hal profesionalisme serta siap melakukan berbagai inovasi. Sebaliknya, guru juga harus mendapat kesejahteraan untuk dedikasi dan pengabdiannya melalui berbagai jenjang pendidikan.

ilustrasi guru
ilustrasi guru

Dengan meningkatnya kualitas guru maka akan lahir guru-guru yang mampu membangun nilai-nilai unggul terutama dalam praktik di dunia pendidikan. Hadirnya para guru yang kompeten, profesional dan memiliki idealisme sangat tergantung dari kesejahteraan guru yang diperoleh sebagai balas jasa atas tugas profesinya. Karena itu butuh implementasi secara nyata semua hal yang menyangkut kesejahteraan guru, seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Pendidikan yang Baik Tergantung dari Kesejahteraan Guru

Kesejahteraan guru amat penting mengingat dalam konteks pembangunan di sektor pendidikan, guru memegang peran yang sangat sentral. Bisa dikatakan guru merupakan jantung pendidikan, sehingga tanpa denyut peran aktif guru mustahil tercipta kebijakan pembaharuan pendidikan paling canggih sekalipun. Begitu juga dengan rancangan pendidikan yang strategis atau kurikulum yang modern, akan tetap sia-sia tanpa peran guru yang berkualitas.

Dalam catatan “The International Commission on Education for Twenty-first Century” oleh UNESCO, menegaskan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan tergantung dari perbaikan dalam perekrutan, pelatihan, kondisi kerja, dan kesejahteraan guru. Para guru membutuhkan pengetahuan, keterampilan, motivasi, prospek profesional dan karakter personal yang tepat untuk mencapai ekspektasi stakeholder pendidikan. Intinya, meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru adalah sebuah keniscayaan.

Guru yang sejahtera dan memiliki kualitas tentu mampu menyajikan materi pengajaran pada subjek didik. Mereka tidak hanya mampu melakukan transformasi ilmu pengetahuan (cognitive domain) atau aspek keterampilan (psycomotoric domain) namun juga mampu bertanggungjawab menjabarkan semua hal yang berkaitan dengan sikap (affective domain). Para guru berkualitas adalah sekelompok manusia yang tak hanya memiliki pengetahuan namun juga mempunyai fakultas penalaran dan ketaqwaan. Mereka memiliki karakteristik sebagai sosok bermoral, selalu mendengarkan kebenaran, bijaksana, dan mampu menyerap berbagai pengalaman.

Momentum Pembangkit Idealisme Guru

Munculnya komitmen untuk memaksimalkan kesejahteraan guru merupakan momentum paling tepat untuk membangkitkan idealisme guru dalam upaya membangun bangsa yang lebih beradab. Dengan demikian masa depan bangsa Indonesia lebih berkualitas, lebih maju, memiliki budaya cerdas, dan mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Dalam hal ini persoalannya adalah bagaimana agenda mensejahterakan guru tersebut dapat diimplementasikan secara konkret serta didasarkan atas kemauan politik juga keseriusan pemerintah. Intinya, meskipun banyak persoalan bangsa yang harus dihadapi, meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru sifatnya mutlak dan tidak bisa ditawar lagi.

Tentu kita tidak bisa menutup mata bahwasanya masih banyak guru yang kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jauh di pelosok-pelosok desa atau di daerah pedalaman, masih banyak guru honorer yang memperoleh gaji sangat kecil, bahkan tanpa tunjangan apapun. Ini menjadi PR besar di dunia pendidikan kita, terutama bagaimana upaya serius memberikan kesejahteraan bagi para guru, sebanding apa yang mereka dedikasikan dalam mencerdaskan bangsa.

Kesejahteraan guru adalah bentuk pembaharuan manajemen guru yang lebih bijak. Dengan demikian sekali lagi kesejahteraan serta martabat guru harus diimplementasikan secara nyata untuk menciptakan stigma profesi guru benar-benar mulia dan bermartabat. Jika hal tersebut dapat terwujud maka guru tidak hanya dipandang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun jasa para guru benar-benar diperhatikan dan diapresiasi secara layak dan manusiawi.