Bhataramedia.com – Di dalam krisis Ebola yang sedang berlangsung, banyak perhatian telah difokuskan pada upaya bantuan dari negara-negara Barat dan organisasi nirlaba Doctors Without Borders. Keluar dari pusat perhatian, China melakukan salah satu operasi bantuan terbesar yang pernah ada, sebagian didorong oleh meningkatnya kepentingan politik dan bisnis di Afrika.

Sudah ada sekitar 200 tenaga dan penasihat medis dari Cina yang kini ditempatkan di tiga negara Afrika Barat untuk memerangi wabah Ebola : Sierra Leone, Liberia dan Guinea. George Gao, wakil direktur jenderal Chinese Center for Disease Control and Prevention (CDC China), menjalankan pengujian laboratorium mobile di ibukota Sierra Leone. Gao mengatakan bahwa timnya melakukan 40 sampai 60 tes darah tiap hari. Selain mendiagnosis penyakit pada pasien, laboratorium tersebut penting untuk menguji mayat, jika pasien telah meninggal akibat Ebola.

“Hal ini penting untuk menahan diri dari praktek-praktek pemakaman tradisional di Afrika Barat, seperti mencuci atau menyentuh orang yang meninggal atau memberikan “ciuman terakhir,” kata Gao, seperti dilansir Sciencemag (03/11/2014).

Gao juga merupakan seorang veteran yang sukses membendung strain flu burung H7N5 dan H7N9 di Cina. Gao dan timnya yang terdiri dari sekitar 30 orang dari China CDC tiba di Freetown pada pertengahan September dan akan tinggal sampai pertengahan November. Sedangkan di Sierra Leone, sekitar 30 tenaga medis dari Rumah Sakit Militer Beijing 302 yang memimpin selama  wabah SARS 2003 di Cina, mengoperasikan sebuah penampungan untuk menjaga pasien yang diduga terjangkit Ebola di bawah karantina. Di dalam beberapa minggu ke depan, 480 tenaga medis dari Tentara Pembebasan Rakyat China, termasuk staf yang terlibat di dalam memerangi SARS, akan tiba di Liberia untuk membangun dan mempersiapkan pusat perawatan dengan 100 tempat tidur. China juga akan memberikan 60 ambulans, 100 sepeda motor dan perlengkapan lainnya, termasuk truk pickup dan insinerator ke wilayah tersebut, di dalam waktu sebulan.

“Ebola telah menjadi musuh bersama,” kata Lin Songtian, direktur jenderal Department of African Affairs, kepada wartawan di Beijing pada tanggal 31 Oktober. “Bantuan kami ke Afrika di dalam memerangi Ebola telah menjadi kampanye yang paling berkelanjutan dan di antara kontribusi keuangan terbesar (untuk upaya bantuan internasional) di dalam sejarah kita.” Lanjut Lin. Bantuan keuangan China untuk memerangi Ebola hingga saat ini mencapai total 750 juta RMB ($ 123.000.000).

Ketika ditanya oleh seorang wartawan mengenai bantuan tersebut, Lin menunjukkan bahwa sekarang ada 25.000 pengusaha China yang terdaftar di Afrika dan Cina adalah mitra dagang terbesar di benua itu. Selain itu, ia menambahkan, Beijing melihat ibukota Afrika sebagai sekutu politik. Selama setengah abad terakhir, China dan Afrika telah melakukan kerja sama lebih erat.

Para pengamat internasional mengatakan bahwa Gao dan rekan-rekannya berada di dalam posisi yang baik untuk berbagi pengetahuan. “Saya pikir itu adalah keinginan untuk memikul tanggung jawab global yang lebih besar yang membawa China pada saat ini ke Afrika, selain itu hal tersebut juga mendemonstrasikan pertumbuhan medis dan ilmiah di China,” kata roberto Bruzzone, co-direktur HKU-Pasteur Research Pole di Hong Kong.

Sementara itu, pihak berwenang China telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah wabah kembali ke rumah. Penumpang yang tiba di Cina dari negara-negara yang terkena dampak Ebola di Afrika Barat diskrining untuk demam dan dipantau (meskipun tidak dikarantina) selama 21 hari, waktu maksimum dari infeksi sampai timbulnya gejala penyakit virus Ebola. Selama 3 bulan terakhir, otoritas kesehatan telah menyaring 26.235 pendatang dari tiga negara yang terkena dampak dan mengidentifikasi 88 orang dengan demam. Menurut General Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine, mereka belum mengkonfirmasi adanya kasus Ebola.

“Risiko tidak dapat diabaikan,” kata Benjamin Cowling, seorang profesor epidemiologi penyakit menular di University of Hong Kong School of Public Health. “Ada kemungkinan bahwa orang yang terinfeksi dengan Ebola dapat tiba di Cina di dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Mereka termasuk pelancong bisnis dan wisatawan serta bantuan dan tenaga medis  yang kembali.”

Risiko terbesar dari infeksi adalah dokter medis dan personil di Afrika Barat.”Risiko meningkat secara proporsional dengan jumlah minggu mereka tinggal di sana dan berapa banyak pasien yang telah mereka temui,” kata Bruzzone.

Gao menegaskan dia tidak terlalu khawatir mengenai dirinya atau timnya. “Ebola adalah virus yang tidak ditularkan melalui udara. Jika langkah-langkah perlindungan yang tepat diikuti ketat, hal tersebut tidak berbahaya,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here