Bhataramedia.com – Menurut para peneliti di Australia, habitat ikan hiu dapat mengurangi kepekaan ikan hiu  terhadap meningkatnya kadar CO2.

Secara global, pengasaman laut (terkait dengan emisi gas rumah kaca) tetap menjadi perhatian utama dan ilmuwan mengatakan bahwa hal ini akan merugikan banyak spesies laut selama abad berikutnya.

Para peneliti dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies (Coral CoE) di James Cook University telah menemukan bahwa hiu epaulette, spesies yang berlindung di dalam terumbu karang dan hidup dengan kadar oksigen rendah, mampu mentolerir peningkatan karbon dioksida di dalam air tanpa mengalami dampak pada kondisi fisiknya.

“Sebagai bagian dari studi, kami memapar ikan hiu tersebut dengan peningkatan CO2 selama lebih dari dua bulan. Kadar tersebut mencerminkan perkiraan tingkat CO2 untuk akhir abad ini,” kata rekan penulis studi, Dr. Jodie Rummer dari Coral CoE.

“Kami kemudian melakukan pengujian terhadap sistem pernapasan hiu , mengukur berapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi dasar di bawah kondisi percobaan,” jelas Dr. Rummer, seperti dilansir ARC Centre of Excellence in Coral Reef Studies (15/10/2014).

Para peneliti menemukan bahwa hiu epaulette mengatur sistem mereka untuk melawan tingkat asam yang lebih tinggi di dalam tubuh mereka. Dr. Rummer menjelaskan bahwa kemampuan hiu tersebut untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen (mirip dengan yang ditemukan di habitat aslinya) tidak terpengaruh oleh tingkat CO2 yang tinggi.

Rekan penulis studi, Profesor Philip Munday dari Coral CoE mengatakan bahwa adaptasi fisiologis hiu epaulette memungkinkan untuk mengatasi kondisi di dalam terumbu karang, sehingga membuat hiu tersebut lebih mampu mentolerir pengasaman laut.

“Spesies yang hidup di lingkungan terumbu dangkal, dimana hiu dapat mengalami tingkat CO2 tinggi alami secara teratur, kemungkinan memiliki adaptasi yang membuat mereka lebih toleran terhadap tingkat CO2 yang lebih tinggi di masa depan dibandingkan spesies lainnya,” lanjut dia.

Profesor Munday mengatakan langkah penting berikutnya adalah untuk menguji sensitivitas spesies hiu lainnya terhadap pengasaman laut.

“Spesies hiu yang hidup di laut terbuka kemungkinan lebih rentan terhadap pengasaman laut di masa depan daripada spesies hiu yang secara alami hidup di lingkungan terumbu karang  dangkal karena spesies ini sudah mengalami lingkungan yang lebih bervariasi,” kata Munday.

Dr. Rummer menambahkan bahwa dengan menentukan hewan mana yang lebih dan kurang rentan terhadap meningkatnya kadar CO2, para ilmuwan akan lebih mampu memprediksi konsekuensi pengasaman laut terhadap ekosistem laut di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here