loading...
sel T, imun
Sel T manusia.(Credit: NIH)

Bhataramedia.com – Peneliti dari Netherlands Cancer Institute dan University of Oslo/Oslo University Hospital menunjukkan bahwa bahkan jika sel-sel kekebalan tubuh diri sendiri tidak dapat mengenali dan melawan tumor. Sedangkan sel-sel kekebalan orang lain mungkin dapat melakukannya. Studi ini diterbitkan di jurnal Science pada 19 Mei.

Studi ini menunjukkan bahwa menambahkan mutasi DNA dari sel-sel kanker ke dalam sel-sel perangsang kekebalan dari donor yang sehat, membuat respon kekebalan pada sel-sel kekebalan tubuh yang sehat. Dengan memasukkan komponen tertarget dari sel-sel kekebalan dono kembali ke sel-sel kekebalan dari pasien kanker, para peneliti mampu membuat sel-sel kekebalan tubuh pasien kanker mengenali sel kanker.

Bidang imunoterapi kanker yang sangat berkembang pesat, bertujuan untuk menciptakan teknologi yang membantu sistem kekebalan tubuh diri sendiri untuk melawan kanker. Ada beberapa kemungkinan penyebab yang dapat mencegah sistem kekebalan tubuh mengendalikan sel-sel kanker. Pertama, aktivitas sel-sel kekebalan tubuh dikendalikan oleh banyak ‘rem’ yang dapat mengganggu fungsi mereka, dan terapi yang menonaktifkan ‘rem’ ini sekarang sedang diuji di banyak kanker pada manusia. Sebagai alasan kedua, pada beberapa pasien sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengenali sel kanker sebagai kelainan. Dengan demikian, membantu sistem kekebalan tubuh untuk lebih mengenali sel kanker adalah salah satu fokus utama dalam imunoterapi kanker.

Ton Schumacher dari Netherlands Cancer Institute dan Johanna Olweus dari University of Oslo and Oslo University Hospital, memutuskan untuk menguji apakah ‘sistem kekebalan tubuh yang dipnjam’ dapat “melihat” sel-sel kanker dari pasien sebagai suatu kelainan. Pengenalan sel-sel yang menyimpang dilakukan oleh sel-sel imun yang disebut sel T. Semua sel T dalam tubuh kita memindai permukaan semua sel, termasuk sel-sel kanker, untuk memeriksa apakah mereka menampilkan setiapfragmen protein pada permukaan yang seharusnya tidak ada. Setelah mengenali fragmen protein asing tersebut, sel T membunuh sel yang menyimpang. Oleh karena sel kanker mengandung protein yang rusak, sel ini juga dapat menampilkan fragmen protein asing , yang juga dikenal sebagai neo-antigen, pada permukaannya. Sama seperti cara sel yang terinfeksi virus mengekspresikan fragmen protein virus.

Untuk mengatasi apakah sel T dari pasien bereaksi terhadap semua fragmen protein asing pada sel-sel kanker, tim peneliti pertama kali memetakan semua kemungkinan neo-antigen pada permukaan sel melanoma dari tiga pasien yang berbeda. Pada semua 3 pasien, sel-sel kanker tampaknya menampilkan sejumlah besar neo-antigen yang berbeda. Tetapi ketika para peneliti mencoba untuk mencocokkan ini dengan sel T yang berasal dari dalam tumor pasien, sebagian besar fragmen protein yang menyimpang tidak dikenali oleh sel T.

Kemudian, mereka menguji apakah neo-antigen yang sama dapat dilihat oleh sel T yang berasal dari relawan yang sehat. Hasilnya, sel T yang berasal dari donor sehat dapat mendeteksi sejumlah besar neo-antigen yang tidak terlihat oleh sel T pasien.

“Di satu sisi, temuan kami menunjukkan bahwa respon imun pada pasien kanker dapat diperkuat. Salah satu cara yang kami pertimbangkan adalah menemukan sel T donor yang tepat untuk dicocokkan dengan neo-antigen,” kata Ton Schumacher.

“Reseptor yang digunakan oleh sel T donor kemudian dapat digunakan untuk secara genetik memodifikasi sel T pasien sendiri sehingga akan dapat mendeteksi sel-sel kanker,” lanjut Schumacher.

“Studi kami menunjukkan bahwa prinsip kekebalan pinjaman untuk melawan kanker merupakan hal potensial. Namun, lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pasien bisa mendapatkan keuntungan dari penemuan ini. Jadi, kita perlu mencari cara untuk meningkatkan hasilnya. Kami sedang menjajaki metode yang tepat untuk mengidentifikasi neo-antigen yang dapat ‘dilihat’ sel T pada kanker dan mengisolasi sel-sel tersebut. Namun, hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kita dapat memperoleh kekebalan terhadap kanker dari darah orang sehat, sudah sangat menjanjikan,” kata Johanna Olweus, seperti dilansir Netherlands Cancer Institute (19/05/2016).

Penelitian ini dilakukan dalamdi K.G.Jebsen Pusat Kanker Imuno K.G.Jebsen Center for Cancer Immunotherapy, University of Oslo/ Oslo University Hospital dan Netherlands Cancer Institute.

Referensi Jurnal :

E. Stronen, M. Toebes, S. Kelderman, M. M. van Buuren, W. Yang, N. van Rooij, M. Donia, M.-L. Boschen, F. Lund-Johansen, J. Olweus, T. N. Schumacher. Targeting of cancer neoantigens with donor-derived T cell receptor repertoires. Science, 2016; DOI: 10.1126/science.aaf2288.